Sumut

Viral Keluarga Pasien Corona Maki-maki Dokter, Ini Respons RS Marta Friska

"Ya begini lah nasib kami, sudah melayani pasien 24 jam semua berhak memaki kami dan kami harus diam," keluhnya.

Reza Gunadha

Seorang staf medis dengan pakaian pelindung terlihat di depan seorang pasien dengan penyakit virus Corona Covid-19 di dalam sebuah unit perawatan intensif (ICU) di rumah sakit San Raffaele, Milan, Italia, Jumat (27/3/2020). [Antara/Reuters/Flavio Loscalzo]
Seorang staf medis dengan pakaian pelindung terlihat di depan seorang pasien dengan penyakit virus Corona Covid-19 di dalam sebuah unit perawatan intensif (ICU) di rumah sakit San Raffaele, Milan, Italia, Jumat (27/3/2020). [Antara/Reuters/Flavio Loscalzo]

SuaraSumut.id - Rumah Sakit Martha Friska angkat bicara perihal tudingan pihak keluarga pasien corona yang emosi dan melontarkan makian seperti dalam sebuah video yang viral di media sosial. 

Direktur Rumah Sakit Martha Friska dr Fransiscus Ginting menjelaskan, pasien yang dimaksud merupakan rujukan dari rumah sakit swasta dengan diagnosis suspect covid-19.

Pasien dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit Martha Friska, Jalan Multatuli, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Hasil swab pertama melalui PCR negatif. Pasien Covid-19 harus dilakukan dua kali swab untuk penegakan diagnosis, dan bila salah satu hasil positif, maka disebut covid-19 terkonfirmasi," kata dr Fransiscus Ginting, Jumat (24/7/2020).

Fransiscus mengatakan, karena baru satu kali dilakukan swab dengan hasil negatif, maka diagnosisnya disebut probable Covid-19. Sebab, bisa saja hasil kedua terkonfirmasi positif.

Lebih lanjut dijelaskan dr Fransiscus, selain itu, hal serupa juga berlaku kepada pasien yang meninggal dengan gejala covid-19.

Fransiscus juga mengaku sudah memberikan penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien. 

"Keluarga pasien telah menandatangani surat pernyataan yang menyetujui bila pasien meninggal maka pemakaman sesuai dengan pasien covid-19," bebernya.

Jika hasil Swab belum keluar, maka diagnosis menjadi probable Covid-19 dan proses pemakaman harus menggunakan alur pasien Corona sesuai dengan buku petunjuk pelaksanaan oleh Kementerian Kesehatan yang baru.

"Semua boleh marah, memaki dan mengancam kami yang bekerja 24 jam merawat pasien, dan kami hanya diam, apakah ini adil, Tuhan yang tau, kami akan tetap bekerja melayani pasien kami," kata dr Fransiscus.

"Ya begini lah nasib kami, sudah melayani pasien 24 jam semua berhak memaki kami dan kami harus diam," keluhnya.

Menurutnya, pihak Martha Friska memahami dengan sikap keluarga yang belum menerima kenyataan yang ada.

Fransiscus memaklumi dalam situasi wabah baru ini, masyarakat yang masih belum paham menjadi marah, emosional dan panik. Bahkan sampai melontarkan kata-kata makian yang ditujukan kepada rumah sakit.

"Hati kami sebagai manusia juga sakit dan pedih, melihat pasien kami yang meninggal setelah kami rawat maksimum dan kami dimaki-maki, dan kami hanya bisa diam."

Sebelumnya, seorang pria yang mengaku keluarga pasien mengamuk dan memaki rumah sakit lantaran tidak terima jenazah anggota keluarganya dinyatakan pasien Corona.

Aksi protes anggota keluarga dalam video berduarasi 50 detik itu mencuat dan beredar di Media Sosial. 

Dalam video itu, pria tersebut tidak terima jika anggota keluarganya dilakukan pemakaman sesuai protokol Covid-19, karena hasil Swab menunjukan pasien negatif.

Tidak hanya marah, sang pria itu juga melontarkan kata kasar dan makian serta menuding pihak rumah sakit sengaja menjadikan pasien positif guna mendapatkan uang.

"Orangtuaku tidak penyakit Covid tetapi dibilang penyakit Covid, supaya cair dana. Mereka tidak berani keluar untuk menemui kami," kata seorang pria dalam video berdurasi 50 detik sembari melontarkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada pihak rumah sakit. [Muhlis]

Berita Terkait

Berita Terkini