SuaraSumut.id - Bukti keberadaan pemerintahan di suatu daerah biasanya dibuktikan dengan peninggalan yang menunjukan eksistensi dalam bentuk peninggalan masa lampau berupa benda.
Hal itu pula yang kemudian menunjukan keberadaan kerajaan di Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh.
Bukti eksistensi keberadaan Kerajaan Simeulue tersebut ditunjukkan dengan adanya stempel berusia 320 tahun yang saat ini masih disimpan generasi keempat kerajaan tersebut.
Pada stempel tersebut tercatat telah ada sejak tahun 1700 Masehi, milik raja pertama Simeulue Datoe Pamoendjak Imboh bin Teuku Radja Datoe Pamoendjak Bandjar.
Stempel yang digunakan untuk pengesahan keadministrasian kegiatan pemerintahan dalam kerajaan tersebut, kekinian dipegang Cut Maria (64) yang merupakan cicit dari raja pertama di kabupaten kepulauan ini.
"Saya ini generasi keempat dari Raja Datoe Pamoendjak Imboh. Stempel ini saya yang pegang karena orang tua saya merupakan anak pertama dari sang raja sehingga berhak memegang amanah ini," kata Warga Desa Suka Jaya, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue seperti dilansir Modusaceh.co-jaringan Suara.com pada Senin (19/10/2020).
Menurutnya, stempel itu diberikan seorang Raja Aceh kala itu kepada Datoe Pamoendjak Imboh, sebagai tanda pengesahan segala urusan kerajaan paling ujung Sumatera ini.
"Stempel yang terbuat dari Kuningan dan gagangnya dari kayu hitam itu, digunakan sebagai tanda pengesahan sang raja pada bawahannya, yakni raja-raja di lima wilayah di Simeulue," jelasnya.
Selain stempel, menurut Cut Maria, dahulu pernah ada beberapa peninggalan lain dari sang raja. Namun, peninggalan berupa pedang bergagang emas milik raja telah hilang akibat bencana tsunami pada tahun 1907.
Baca Juga: Menteri Tjahjo Diberi Keris Pusaka Kerajaan Gowa, Cara Buatnya Unik
"Tinggal stempel ini yang ada peninggalan raja pertama Simeulue. Dulunya ada pedang bergagang emas, dan juga senjata milik raja, namun telah hilang karena tsunami," katanya.
Seorang keturunan Raja Datoe Pamoendjak Imboh Yanita Riska menambahkan, stempel bertuliskan nama sang raja dalam huruf arab tersebut masih terawat dengan baik dan masih sangat jelas tulisannya apabila digunakan.
Berdasarkan keterangan nenek moyangnya, Nita mengemukakan stempel itu selain digunakan untuk pengesahan segala administrasi kerajaan, juga dipakai untuk cap undangan acara keluarga kerajaan.
"Stempel ini juga digunakan sebagai tanda pengesahan undangan raja dalam kegiatan sosial. Seperti undangan pernikahan, sunatan, serta acara lainnya dalam keluarga kerajaan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
SIPEF dan KIS Bangun Pabrik BioCNG di Simalungun, Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih
-
Imigrasi Kualanamu Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Akses Layanan Paspor yang Setara
-
Remaja di Medan Pukul Teman hingga Tewas Gegara Kesal Dimaki
-
Pengiriman 144 Balpres Ilegal dari Bandung ke Medan Digagalkan
-
Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC