- Kuasa hukum BNI, Boyamin Saiman, menegaskan langkah hukum dilakukan demi kepastian besaran kewajiban bank dalam perkara Koperasi Swadharma.
- BNI hanya berkomitmen melunasi kewajiban sebesar Rp472 juta dan menolak menanggung seluruh nilai tuntutan tanpa dasar hukum.
- Upaya hukum di DPRD Sumatera Utara dilakukan agar pembayaran tidak dianggap sebagai penyimpangan yang merugikan keuangan negara.
SuaraSumut.id - Kuasa hukum PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Boyamin Saiman, menegaskan bahwa langkah perlawanan hukum yang diajukan dalam perkara Koperasi Swadharma bukan bertujuan untuk menghambat proses penyelesaian.
Sebaliknya, upaya tersebut dilakukan demi memperoleh kepastian hukum terkait besaran kewajiban yang harus ditanggung oleh BNI.
Pernyataan itu disampaikan Boyamin saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi C DPRD Sumatera Utara, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurutnya, hingga saat ini tidak pernah ada pernyataan maupun dokumen resmi yang menunjukkan bahwa BNI bersedia menanggung total seluruh nilai pembayaran.
"Prinsipnya, tidak pernah ada BNI mengatakan bersedia menanggung seluruhnya. BNI hanya bersedia membayar bagian yang menjadi tanggung jawab BNI," katanya.
Boyamin menjelaskan bahwa baik dalam penetapan awal maupun setelah adanya koreksi terhadap penetapan tersebut, tidak ditemukan bukti administrasi yang menunjukkan komitmen BNI untuk membayar seluruh nilai tuntutan.
"Kalau memang ada berita acaranya, kalau ada suratnya, silakan dimunculkan. Karena memang tidak ada pernyataan bersedia menanggung seluruhnya," ujarnya.
Menurut Boyamin, surat resmi yang pernah diterbitkan BNI justru menyebutkan kesediaan membayar bagian yang menjadi tanggung jawab bank yakni sebesar Rp472 juta.
"Kami bersedia membayar bagian BNI. Bahkan surat dari Bank BNI juga mengatakan bersedia membayar bagiannya BNI, yaitu Rp472 juta. Jadi itu sudah sangat jelas," jelasnya.
Ia mengatakan, perlawanan diajukan agar pengadilan memberikan kepastian mengenai jumlah kewajiban yang harus ditanggung BNI sehingga tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
"Kenapa kami mengajukan perlawanan? Supaya benar dan jelas. Kami ingin memastikan berapa sebenarnya hak dan kewajiban Bank BNI yang harus dibayarkan," ujarnya.
Lebih lanjut, Boyamin mengingatkan bahwa pembayaran tanpa dasar hukum yang jelas berpotensi menimbulkan persoalan serius, termasuk dianggap sebagai penyimpangan yang merugikan keuangan negara.
"Kalau BNI membayar Rp2,8 miliar tanpa dasar yang jelas, bisa dianggap tidak ada dasarnya, bisa dianggap penyimpangan, bisa dianggap merugikan negara, bahkan bisa dianggap korupsi," katanya.
Karena itu, pihaknya menilai perlu adanya putusan yang tegas dari pengadilan sebelum pembayaran dilakukan. Menurutnya, langkah tersebut juga penting untuk menjaga tata kelola perusahaan yang baik dan memenuhi prinsip kehati-hatian.
"Nanti juga bisa dipersoalkan oleh OJK kalau kami membayar tanpa dasar yang jelas. Jadi bukan niat kami menghambat atau memperlama proses. Kami hanya ingin ada keputusan yang jelas terlebih dahulu," ujar Boyamin.
Berita Terkait
-
Mengenal New BIONS, Langkah Awal Mahasiswa Memahami Dunia Investasi
-
Stasiun BNI City Makin Padat, Akses Pejalan Kaki dari Kawasan Karet Mulai Dibangun
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Hingga Menetas Tuntas
-
PSMS Tekuk PSIS 2-1, Gubernur Bobby Nasution Optimistis Ayam Kinantan Menuju ke Super League
-
Kolaborasi Kapolri-Gubsu Bobby Nasution, Upaya Pemberantasan Narkoba di Sumut Tambah Kuat
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Imigrasi Sumut Sapu Bersih Penghargaan di Bimtek PIMPASA 2026
-
Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama
-
Remaja Hanyut di Sungai Langkat Ditemukan Meninggal Dunia
-
Viral Guru Agama di Deli Serdang Diamuk Warga Diduga Lecehkan Siswi SD
-
BRI Hadirkan Qlola Mobile, Permudah Transaksi Bisnis dalam Genggaman