Suhardiman
Senin, 05 Oktober 2026 | 17:47 WIB
Harga cabai di Sumut semakin pedas. [Ist]
Baca 10 detik
  • Ekonom Gunawan Benjamin menyatakan inflasi Sumatera Utara pada September 2026 relatif terkendali di level 0,14 persen.
  • Harga cabai merah melonjak hingga menembus Rp100.000 per kilogram pada awal Oktober 2026 dan mengancam kenaikan inflasi.
  • Harga beras di Sumatera Utara belum turun secara signifikan meskipun wilayah tersebut telah memasuki periode panen padi.

SuaraSumut.id - Tekanan inflasi di Sumatera Utara (Sumut), pada September 2026 terbilang terkendali. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjadi kabar baik karena harga sejumlah komoditas pangan, khususnya cabai merah, masih berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi pada Oktober.

Ekonom Gunawan Benjamin mengatakan, inflasi Kota Medan pada September hanya tercatat sebesar 0,04 persen, jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Sumut yang berada di level 0,14 persen secara month to month (mtm).

Sementara itu, inflasi di sejumlah daerah lain di Sumut juga relatif rendah, seperti Labuhanbatu sebesar 0,13 persen dan Pematangsiantar 0,16 persen.

Menurut Gunawan, kondisi tersebut tidak terlepas dari pola distribusi dan ketersediaan komoditas pangan, khususnya cabai merah, di masing-masing daerah.

“Untuk Labuhanbatu, wilayahnya lebih mudah dijangkau dengan cabai dari daerah produksi. Komoditas tersebut juga pada umumnya masuk ke Pasar Induk Lau Cih di Kota Medan,” kata Gunawan, Senin (5/10/2026).

Ia menjelaskan, cakupan wilayah Labuhanbatu yang tidak sebesar Kota Medan membuat kenaikan harga pada setiap rantai pasok relatif lebih kecil.

Kondisi berbeda terlihat di Kota Pematangsiantar. Daerah tersebut dinilai diuntungkan dengan keberadaan sejumlah wilayah produsen yang dapat menopang kebutuhan cabai.

Meski harga cabai tetap menjadi salah satu penyumbang tekanan inflasi, dampaknya di sejumlah daerah masih dapat diredam oleh kondisi distribusi dan kebijakan pengendalian harga.

Gunawan menilai, salah satu langkah jangka panjang yang dapat dilakukan untuk menjaga stabilitas harga adalah memperkuat kemitraan antara petani dan pedagang melalui skema Kerja Sama Antardaerah (KAD).

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan komoditas pertanian sebaiknya lebih diprioritaskan untuk kebutuhan di Sumut sebelum dikirim ke provinsi lain.

“Upaya pengendalian inflasi harus terfokus pada penyediaan kebutuhan komoditas pertanian untuk Sumut terlebih dahulu,” ujarnya.

Namun, tantangan pengendalian inflasi pada Oktober diperkirakan masih cukup berat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pergerakan harga cabai yang kembali bergejolak.

Gunawan menjelaskan harga cabai bahkan sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram pada awal Oktober. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa komoditas hortikultura ini masih dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.

“Komoditas cabai yang masih bergejolak atau bahkan sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram di awal bulan menjadi sinyal buruk,” kata Gunawan.

Tekanan harga cabai juga berpotensi semakin kuat apabila kondisi musim kering mengganggu produksi di sejumlah daerah.

Load More