Suhardiman
Selasa, 06 Oktober 2026 | 19:46 WIB
Ketua Kadin Sumut Firsal Dida Mutyara dan Group CEO Fireworks Trade Media Kenny Yong menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (6/10/2026). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Pameran teknologi kelapa sawit Palmex Medan 2026 diselenggarakan di Hotel Santika pada tanggal 6 sampai 8 Oktober 2026.
  • Ajang yang diikuti sekitar 300 perusahaan partisipan tersebut menargetkan pencapaian transaksi perdagangan hingga 100 juta dolar AS.
  • Ketua Kadin Sumut menyatakan sektor sawit menopang ekonomi nasional dengan produksi CPO dan PKO sekitar 30 juta ton pada semester pertama 2026.

SuaraSumut.id - Pameran teknologi kelapa sawit, Palmex Medan 2026 berlangsung di Hotel Santika dari tanggal 6 hingga 8 Oktober 2026.

Pameran ini menghadirkan sekitar 300 perusahaan partisipan dari berbagai sektor industri terkait. Pemeran tersebut menargetkan transaksi perdagangan hingga 100 juta dolar AS.

Terget tersebut mencatat kernaikan pesat dibandingkan dengan realisasi transaksi tahun lalu sebesar 70 juta dolar AS atau sekitar Rp1,3 triliun.

Kenny Yong, Group CEO of Fireworks Trade Media, selaku penyelenggara pameran, mengungkapkan kegembiraannya atas antusiasme peserta yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Kita harapkan transaksi dalam pameran ini dapat mencapai lebih dari US$ 100 juta," katanya, Selasa (6/10/2026).

Sementara itu, Ketua Kadin Sumut Firsal Dida Mutyara, mengatakan, Medan menjadi kota titik temu penting bagi para pelaku usaha kelapa sawit.

"Kami dari Kadin Sumut bangga menjadi bagian dari perjalanan panjang Palmex dan kami siap untuk menjadi partner palmex di tahun-tahun ke depan," ujarnya.

Firsal mengatakan bahwa bagi Sumatera Utara, sawit bukan sekedar komunitas, melainkan bagian dari sejarah panjang tempat perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia dibuka lebih dari satu abad lalu.

Sejak saat itu, sawit tumbuh menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah dan nasional yang menghidupi jutaan keluarga, petani, hingga UKM di seluruh perkebunan.

Firsal memaparkan data bahwa pada semester pertama 2026, produksi CPO dan PKO nasional menyentuh angka sekitar 30 juta ton, dengan penyerapan domestik mencapai lebih dari 13 juta ton dan ekspor melampaui 16 juta ton.

"Ke depan, implementasi program B50 diyakini akan menyerap pasokan yang jauh lebih besar," ucapnya.

Tantangan pertumbuhan di tingkat lokal masih menjadi catatan serius. Data menunjukkan bahwa pada triwulan ke-2 2026 ekonomi Sumatera Utara tumbuh 5,06 persen.

Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan 5,29 persen. Padahal Sumut adalah penyumbang PDRB terbesar di Pulau Sumatera sekitar 23 persen.

Padahal Sumut memiliki modal yang cukup besar, di antaranya KEK Sei Mangkei yang berbasis kepada industri hilir, turunan kelapa sawit, pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Belawan, yol Trans-Sumatra.

Namun modal itu belum sepenuhnya cukup menjadi pertumbuhan yang cepat dan merata. Hal ini dikarenakan hilirisasi belum sampai ke Kabupaten kota. Nilai tambah belum dirasakan sampai ke desa-desa penghasil sawit.

Load More