Suhardiman
Senin, 12 Oktober 2026 | 12:09 WIB
Ilustrasi orang mandi (vecteezy/Ali Raza)
Baca 10 detik
  • Frekuensi dan durasi mandi selama 5 hingga 10 menit harus disesuaikan dengan aktivitas agar menjaga kelembapan kulit.
  • Penggunaan air yang terlalu panas serta sabun yang keras dapat merusak minyak alami dan mikrobioma pelindung kulit.
  • Mengoleskan pelembap pada kulit yang masih sedikit lembap setelah mandi membantu mencegah kekeringan dan iritasi tubuh.

SuaraSumut.id - Mandi merupakan salah satu kebiasaan penting untuk menjaga kebersihan tubuh. Namun, tahukah Anda bahwa terlalu sering mandi, menggunakan air terlalu panas, atau memilih sabun yang kurang tepat justru dapat membuat kulit menjadi kering dan gatal?

Selain membersihkan keringat, minyak berlebih, dan kotoran, mandi juga berkaitan dengan kesehatan mikrobioma kulit. Karena itu, cara mandi yang benar perlu diperhatikan agar kebersihan tubuh tetap terjaga tanpa merusak lapisan pelindung alami kulit.

1. Seberapa Sering Sebaiknya Mandi dalam Seminggu?

Frekuensi mandi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap orang. Aktivitas harian, kondisi cuaca, produksi keringat, jenis kulit, dan paparan kotoran dapat memengaruhi kebutuhan seseorang untuk mandi.

Orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan, berolahraga, atau bekerja di lingkungan panas mungkin membutuhkan mandi lebih sering dibandingkan mereka yang beraktivitas ringan di dalam ruangan.

Sebaliknya, mandi terlalu sering menggunakan sabun yang keras dapat menghilangkan minyak alami kulit. Akibatnya, kulit terasa tertarik, bersisik, atau mengalami iritasi.

Disarankan agar seseorang memperhatikan kondisi tubuh, termasuk munculnya bau badan. Perubahan bau dapat menjadi salah satu tanda bahwa keringat dan aktivitas mikroorganisme pada kulit membutuhkan perhatian.

Meski demikian, bau badan bukan satu-satunya patokan. Kebersihan setelah berolahraga, paparan debu, dan kondisi lingkungan juga perlu dipertimbangkan.

Intinya, sesuaikan frekuensi mandi dengan kebutuhan tubuh dan kondisi kulit, bukan sekadar mengikuti kebiasaan orang lain.

2. Batasi Durasi Mandi Sekitar 5–10 Menit

Mandi dalam waktu lama mungkin terasa menyenangkan, terutama setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, paparan air berkepanjangan, khususnya air panas, dapat meningkatkan risiko kulit kehilangan kelembapan.

DIsarankan mandi singkat sekitar 5–10 menit, terutama bagi orang yang memiliki kulit kering atau sensitif. Mandi singkat bukan berarti mengabaikan kebersihan. Fokuskan pembersihan pada bagian tubuh yang mudah berkeringat dan menghasilkan bau, seperti ketiak, selangkangan, kaki, serta area lain yang kotor.

Jika ingin menikmati waktu mandi lebih lama, perhatikan suhu air dan kondisi kulit. Hindari berendam atau membiarkan air panas terus mengenai bagian tubuh dalam waktu panjang.

Setelah mandi, keringkan tubuh dengan handuk secara lembut. Jangan menggosok kulit terlalu keras karena tindakan tersebut dapat memperburuk iritasi.

3. Hindari Air yang Terlalu Panas

Suhu air menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan kulit. Air yang terlalu panas dapat mengikis minyak alami yang berfungsi membantu mempertahankan kelembapan. Akibatnya, kulit dapat terasa kering, kasar, dan gatal, terutama pada orang yang memiliki kulit sensitif.

Untuk mengurangi risiko tersebut, gunakan air suam-suam kuku yang terasa nyaman di kulit. Tidak perlu menggunakan air panas hingga membuat kulit memerah atau tubuh terasa kepanasan.

Jika setelah mandi kulit terasa sangat kering atau tertarik, pertimbangkan untuk menurunkan suhu air dan mempersingkat durasi mandi. Perlu diingat, tidak ada satu suhu air yang cocok untuk semua orang. Kenyamanan dan respons kulit menjadi pertimbangan utama.

4. Pilih Sabun yang Lembut dan Bebas Pewangi

Pemilihan sabun juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Produk dengan bahan pembersih yang terlalu kuat, pewangi tertentu, atau kandungan yang tidak cocok dapat memicu kekeringan dan iritasi pada sebagian orang.

Karena itu, pilih sabun atau pembersih tubuh yang lembut, bebas pewangi, dan sesuai dengan jenis kulit. Produk berlabel fragrance-free dapat menjadi pilihan bagi orang yang sensitif terhadap pewangi.

Sementara itu, istilah hypoallergenic menunjukkan bahwa produk dirancang untuk mengurangi potensi reaksi alergi, tetapi bukan jaminan bahwa produk tersebut tidak akan menimbulkan reaksi pada semua orang.

Gunakan sabun secukupnya dan bilas sampai bersih agar tidak ada residu yang tertinggal di permukaan kulit. Jika kulit sering mengalami kemerahan, gatal, atau perih setelah menggunakan produk tertentu, hentikan pemakaiannya dan pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter kulit.

5. Jaga Mikrobioma dan Lapisan Pelindung Kulit

Kulit memiliki mikrobioma, yakni komunitas mikroorganisme yang hidup di permukaannya. Sebagian mikroorganisme tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan kulit.

Mikrobioma kulit berinteraksi dengan sistem pertahanan alami tubuh. Karena itu, kebersihan perlu dijaga tanpa melakukan pembersihan secara berlebihan yang berpotensi mengganggu keseimbangan kulit.

Mandi tetap diperlukan untuk membersihkan keringat, kotoran, dan sisa produk yang menempel. Namun, penggunaan sabun keras, air panas, serta penggosokan berlebihan sebaiknya dihindari.

Setelah mandi, penggunaan pelembap dapat membantu mengurangi kehilangan air dari kulit. Bagi orang dengan kulit kering, pelembap sebaiknya dioleskan ketika kulit masih sedikit lembap. Langkah sederhana ini dapat membantu mempertahankan kelembapan sekaligus mendukung fungsi lapisan pelindung kulit.

6. Jangan Lupakan Pelembap Setelah Mandi

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap perawatan kulit selesai setelah tubuh dibilas dan dikeringkan. Padahal, pelembap dapat membantu menjaga kadar air di kulit, terutama setelah mandi. Pilih produk sesuai kebutuhan, misalnya pelembap tanpa pewangi untuk kulit sensitif.

Keringkan tubuh dengan menepuk-nepuk handuk secara perlahan, bukan menggosoknya dengan kuat. Selanjutnya, oleskan pelembap pada kulit yang masih sedikit lembap.

Jika kulit sangat kering, bersisik, pecah-pecah, atau mengalami gatal berkepanjangan, jangan hanya mengandalkan perubahan kebiasaan mandi. Kondisi tersebut dapat memerlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya.

Load More