Suhardiman
Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:22 WIB
Ilustrasi hujan. [Ist]
Baca 10 detik
  • BMKG Medan memprakirakan hujan lebat melanda 31 kabupaten dan kota di Sumatera Utara pada 23 hingga 25 Oktober 2026.
  • Fenomena atmosfer seperti sirkulasi siklonik dan gelombang MJO memicu cuaca ekstrem akibat tingginya pasokan uap air.
  • Kepala BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah mewaspadai potensi banjir, banjir bandang, serta tanah longsor.

SuaraSumut.id - Masyarakat Sumatera Utara (Sumut) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor menyusul kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya hujan lebat mulai 23 Oktober-25 Oktober 2026.

Kepala BMKG Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi oleh terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Aceh.

Fenomena ini memicu belokan angin dan konvergensi atau pertemuan massa udara di wilayah Sumatera Utara. Kondisi tersebut diperkuat oleh aktifnya gelombang atmosfer serta fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang turut mendukung pertumbuhan awan hujan.

“Faktor-faktor tersebut berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” kata Hendro, Kamis (22/10/2026).

Ia menjelaskan hujan berpotensi terjadi mulai siang hingga dini hari, bahkan dapat berlangsung lebih dari tiga jam. Situasi ini perlu diwaspadai, terutama di daerah yang rawan banjir, luapan sungai, dan longsor.

BMKG juga mencatat suhu muka laut di sekitar wilayah terkait berada pada kisaran 30–31 derajat Celsius. Sementara itu, kelembapan udara terpantau tinggi di seluruh lapisan atmosfer.

"Kombinasi kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pasokan uap air ke Sumatera Utara sehingga pembentukan awan hujan semakin intensif, khususnya di wilayah pantai barat dan pesisir timur," katanya.

Jika hujan lebat berlangsung dalam waktu lama, sejumlah daerah berpotensi mengalami genangan hingga banjir. Risiko dapat meningkat apabila sungai meluap atau tanah tidak lagi mampu menyerap air hujan, terutama di kawasan rawan bencana.

"Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat diprakirakan meliputi 31 kabupaten dan kota di Sumatera Utara," imbuhnya.

Adapun wilayah tersebut mencakup Deli Serdang, Asahan, Serdang Bedagai, Batu Bara, Humbang Hasundutan, Karo, Sibolga, Tanjungbalai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Nias, Nias Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Simalungun.

Kemudian, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba, Langkat, Mandailing Natal, Nias Barat, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Dairi, Kota Medan, Binjai, Gunungsitoli, dan Padangsidimpuan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan cuaca, terutama ketika hujan deras disertai petir dan angin kencang terjadi dalam durasi panjang.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, lereng perbukitan, serta kawasan yang kerap mengalami banjir diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan petugas apabila kondisi dinilai membahayakan," kata Hendro.

Selain masyarakat, para kepala daerah di Sumatera Utara diharapkan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

Langkah kesiapsiagaan diperlukan agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat apabila banjir, banjir bandang, tanah longsor, atau dampak cuaca ekstrem lainnya terjadi.

Load More