"Tembak terus menerus akhirnya panas, merah, patah, puntung, patahannya terpental ke dataran tinggi Suka Nalu, Kabupaten, Karo," sambungnya.
Ia mengatakan, patahan meriam yang berada di Kabupaten Karo, hingga kini juga masih bisa ditemukan.
"Di sana dibuat juga rumah seperti ini, rumah Karo. Bedanya kalau di sini kelambunya kuning atau hijau ciri khas Melayu, kalau di sana warna putih," jelasnya.
Singkat cerita, Kerajaan Haru kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Aceh.
Baca Juga:Gantikan Livina, Sandiaga Uno Pinang Mobil Listrik di IIMS Hybrid 2021
"Di bawah si Putri, namun ia meminta tiga syarat, yaitu bertih, telur, dan kerenda kaca, dapatlah terpenuhi syarat dibawalah Putri Hijau ini pergi," ujarnya.
Sesampainya di perairan Aceh Utara, kata Syarida, ditebarkannya syarat bertih dan telur tadi ke laut.
"Datanglah si Naga, abangnya yang sulung, disitulah diambil si Putri Hijau, maka hilang atau raiblah Putri Hijau di laut Aceh sana," ungkapnya.
Kerajaan Haru Takluk, Lahir Kesultanan Deli
Setelah Kerajaan Haru takluk, maka Panglima Perang Sultan Aceh bernama Gocah Pahlawan, mendirikan kerajaan yang menjadi cikal bakal, Kesultanan Deli.
Baca Juga:Persija Rebut Tiket Final Piala Menpora 2021, Andritany Jadi Pahlawan
Akhirnya meriam bekas peperangan ini dibawa, menjadi kenang-kenangan perang sekaligus penghormatan.