- PT KAI Divre I Sumut mencatat total panjang jalur kereta api aktif mencapai 476,46 kilometer.
- Volume angkutan penumpang kereta api di Sumatera Utara meningkat lima persen pada Januari hingga Agustus 2026.
- Kinerja angkutan barang KAI Sumut melonjak enam belas persen selama periode Januari hingga Agustus 2026.
SuaraSumut.id - Perjalanan panjang perkeretaapian di Sumatera Utara terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi. PT KAI Divre I Sumut mencatat total panjang jalur kereta api yang masih aktif beroperasi mencapai 476,46 kilometer (km).
Manager Humas KAI Divre I Sumut Anwar Yuli Prastyo mengatakan jaringan perkeretaapian tersebut juga mencakup jalur cabang menuju Bandara Internasional Kualanamu yang mulai beroperasi pada 2013.
"Serta jalur cabang ke Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei guna mendukung mobilitas bahan baku serta hasil industri kawasan tersebut," katanya, melansir Antara, Selasa (29/9/2026).
Sejarah Kereta Api Sumatera Utara Dimulai dari Perkebunan
Keberadaan jalur kereta api di Sumatera Utara memiliki sejarah panjang. Perkembangannya tidak terlepas dari pertumbuhan kawasan Deli sebagai salah satu pusat perkebunan ekspor, terutama tembakau deli pada akhir abad ke-19.
Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) atau Perusahaan Kereta Api Deli kemudian memperoleh konsesi untuk membangun jaringan rel dan membuka jalur pertama Medan-Labuhan pada 25 Juli 1886.
Jaringan rel tersebut terus meluas hingga menghubungkan Medan dengan Belawan, Binjai, Deli Tua, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, Teluk Nibung, Kisaran, hingga Rantau Prapat.
Jalur-jalur tersebut membentuk pola hubungan ekonomi yang kuat antara sentra produksi perkebunan dan pelabuhan ekspor.
Pada masa kejayaannya sekitar tahun 1937, total panjang jaringan rel DSM mencapai 553,2 km dengan komoditas utama berupa tembakau, karet, kelapa sawit, dan hasil bumi lainnya.
"Namun, pascakemerdekaan, sejumlah jalur cabang seperti arah Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan tidak lagi beroperasi seiring berkurangnya lahan perkebunan serta turunnya permintaan angkutan komoditas," ujarnya.
Perkeretaapian Sumut juga mengalami modernisasi sarana secara bertahap melalui proses dieselisasi. Operasional rel yang awalnya didominasi lokomotif uap pada 1958, mulai memasuki era lokomotif diesel seri BB300 pada 1965.
Di era digitalisasi dan modernisasi saat ini, KAI terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kemudahan akses layanan membuat semakin banyak masyarakat di Sumut memilih kereta api sebagai moda transportasi pilihan.
Berdasarkan data, sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026, KAI Divre I Sumut mencatat volume angkutan penumpang mencapai 1.857.059 pelanggan. Angka ini tumbuh 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatatkan 1.773.706 pelanggan.
Sinyal positif juga ditunjukkan oleh sektor angkutan barang yang menandakan bertambahnya kepercayaan para mitra logistik. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, KAI Sumut berhasil mengangkut volume barang sebanyak 550.162 ton, melambung 16 persen dari periode yang sama tahun 2025 sebesar 472.609 ton.
Komoditas utama yang diangkut meliputi bahan bakar minyak (BBM), peti kemas, crude palm oil (CPO), serta produk industri lainnya.