- Studio Yruna menyatakan kantor modern harus mendukung pengembangan potensi karyawan dan produktivitas pada 9 Oktober 2026.
- Perusahaan wajib merancang ruang kerja yang fleksibel dan selaras dengan budaya bisnis untuk jangka panjang.
- Vivere menyebutkan pengembangan ruang kerja membutuhkan kolaborasi berbagai pihak industri guna menyesuaikan perubahan kebutuhan organisasi.
SuaraSumut.id - Tren desain ruang kerja semakin mengarah pada konsep yang fleksibel, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan manusia. Kantor kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga ruang yang mampu mendukung kolaborasi, kreativitas, pengembangan potensi karyawan, hingga pembentukan budaya perusahaan.
Perubahan pola kerja, perkembangan teknologi, serta dinamika kebutuhan organisasi mendorong perusahaan untuk mengevaluasi kembali desain ruang kerja mereka. Penataan kantor yang tepat dinilai dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif sekaligus memberikan kenyamanan bagi karyawan.
Design Director Studio Yruna Fayruzka Juanita mengatakan, tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga perlu mendukung pekerja untuk berkembang dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Perusahaan hanya melihat kantor itu sebagai tempat orang kerja saja, bukan tempat di mana mereka bisa berkembang, mereka punya potensi apa yang bisa didorong, dan fasilitas apa yang bisa mendorong itu," katanya melansir Antara, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu tujuan bisnis, arah organisasi, pola kerja, dan budaya yang ingin dibangun sebelum menentukan konsep ruang kerja.
Pemahaman tersebut diperlukan agar fasilitas fisik yang tersedia selaras dengan kebutuhan pekerja dan karakter organisasi dalam jangka panjang.
Ia mengatakan ketidaksesuaian antara budaya yang ingin dibangun perusahaan dan fasilitas di tempat kerja dapat berdampak terhadap pembentukan budaya perusahaan serta produktivitas pekerja.
Karena itu, ruang kerja perlu dirancang fleksibel untuk mengakomodasi berbagai aktivitas, mulai dari kolaborasi, pertemuan kelompok kecil, hingga pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan privasi.
Selain kebutuhan saat ini, perencanaan ruang kerja juga perlu mempertimbangkan perkembangan organisasi dalam lima hingga 10 tahun mendatang, termasuk kemungkinan perubahan jumlah pekerja dan pola kerja.
“Jadi ketika ada perubahan, tidak perlu melakukan investasi besar lagi karena ruangnya sudah bisa beradaptasi,” katanya.
President Director Vivere William Simiadi mengatakan perubahan kebutuhan perusahaan, pekerja, dan organisasi membuat pengembangan ruang kerja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Perubahan terkait workspace cukup cepat, kebutuhan dari perusahaan, orang, dan organisasi juga berubah. Kami merasa perlu satu wadah bagaimana kita sama-sama meningkatkan industri ini,” katanya.
Menurut dia, pengembangan ruang kerja melibatkan berbagai pihak dengan perspektif berbeda, antara lain desainer, kontraktor, manufaktur, konsultan properti, pemilik properti, dan pengguna ruang.
Kolaborasi antarpihak tersebut dinilai dapat membantu menghasilkan ruang kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna dan perkembangan organisasi.