SuaraSumut.id - Pada sidang lapangan terkait gugatan wanprestasi yang diajukan PT LS terungkap bahwa Yayasan Del tidak memberikan kesempatan untuk melakukan retensi atas pekerjaan bangunan asrama mahassiswa yang sudah selesai dikerjakan 100 persen.
"Dari persidangan jelas terlihat bahwa retensi dilakukan oleh kontraktor lainnya, bukan oleh PT LS selaku klien kami yang masih terikat kontrak dengan Yayasan Del," kata kuasa hukum PT LS, Eddy Naibaho dalam keterangan tertulis, Kamis (4/7/2024).
Pada Sidang Lapangan perkara wanprestasi dengan nomor perkara 1040 di PN Jakarta Selatan, hakim tunggal dari PN Balige Sandro Imanuel Sijabat mengajak penggugat yang diwakili oleh kuasa hukumnya Eddy Naibaho cs serta Yayasan Del selaku pihak tergugat yang diwakili oleh Dr. Marihot J Hutajulu untuk melihat objek perkara, berupa gedung asrama mahasiswa Institut Teknologi DEL, di Kabupaten Toba.
Pada sidang lapangan terungkap bahwa pihak tergugat tidak memberikan kesempatan pada penggugat untuk melakukan pemeliharaan proyek yang dikerjakannya, namun diserahkan pada pihak lain yang dijadikan saksi pada perkara tersebut.
Darwin Pahpahan selaku saksi dari tergugat mengakui pihaknya melakukan perbaikan atas beberapa pekerjaan penggugat. Namun mereka tidak memperlihatkan bukti pekerjaan yang sudah dilakukan oleh penggugat dan menunjuk Rencana Anggaran Bangunan (RAB), gambar bangunan yang menjadi acuan bagi kontraktor pelaksana.
"Hal ini kemudian yang membuktikan bahwa pihak tergugat tidak punya niat baik untuk membayarkan seluruh pembayaran sesuai kontrak yang dilakukan Yayasan DEL dengan PT LS," ucapnya.
Proses hukum pasca sidang lapangan ini akan dilanjutkan di PN Jakarta Selatan. Perkara ini berawal ketika PT LS mendapat kontrak pekerjaan bangunan asrama mahasiswa Institut Teknologi Del pada awal Juni 2022 dengan nilai kontrak Rp 5 miliar lebih dengan perjanjian pembayaran dibagi 4 termin.
Pada pembayaran termin kedua, mereka mencium itikad tidak baik dimana pekerjaan sudah mencapai 60 persen dan pembayaran diajukan pada 4 Juli 2022. Namun tagihan ini baru dibayarkan pada Agustus 2022.
Penggugat kemudian menyelesaikan pekerjaan hingga 100 persen dan dilakukan penagihan termin ketiga. Pada saat itulah pihak yayasan Del tidak mau lagi melakukan pembayaran. PT LS tidak diizinkan lagi masuk ke lokasi bagunan untuk melakukan pemeliharaan.
"Tetapi pihak tergugat kemudian memasukkan pekerja lainnya untuk melakukan retensi atas pekerjaan klien kami," katanya.
"Kita berharap majelis hakim melihat secara jernih persoalan ini, karena dari pembayaran termin kedua pihak tergugat sudah tidak memiliki itikad baik terhadap klien kami. Padahal seluruh proyek diselesaikan dengan spesifikasi sesuai dengan RAB dan gambar bangunan yang telah disetujui," katanya.
Berita Terkait
-
Kontraktor Tambang Andalan Perkuat Armada, Bidik Lonjakan Laba 31%
-
Del Piero Puji Kenan Yildiz dan Bintang Muda Dunia: Fantasi Sepak Bola Italia Belum Mati
-
Timnas Futsal Indonesia Diundang Cupa Del Mundo 2026, Bakal Tantang Brasil
-
5 Drama Populer dari IU, Punya Peran Berbeda yang Mengejutkan Penonton!
-
Drama Korea Hotel Del Luna: Hilang dari Mata, Tapi Tetap Terasa
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
Terkini
-
TNI AL Gerebek Pesta Sabu di Tengah Laut, 6 Awak Kapal Ikan Ditangkap
-
Gara-gara Baju Ketat! 46 Warga Aceh Barat Terjaring Razia, Langgar Aturan Busana Syariat
-
Dua Pelaku Zina Dicambuk 100 Kali di Depan Publik, Aceh Barat Kirim Pesan Tegas Penegakan Syariat
-
6 Fakta Pabrik Vape Narkoba 'Labubu' di Medan yang Dikendalikan WNA Singapura
-
Layanan Perumda Tirtanadi Lumpuh, LAPK Sumut: Jangan Jadikan Listrik Sebagai Alasan