- Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh di Istana Negara.
- Salah satu penerimanya adalah Tuan Rondahaim Saragih, pahlawan asal Simalungun, Sumatera Utara.
- Rondahaim dikenal sebagai pemimpin cerdas yang mempertahankan wilayahnya dari Belanda dengan strategi perang gerilya.
SuaraSumut.id - Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, Senin.
Pemberian gelar pahlawan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Ada 10 tokoh penerima yang diberikan gelar Mereka dinilai memiliki jasa besar dalam perjuangan, pengabdian, dan kontribusi bagi Republik Indonesia.
Sepuluh tokoh tersebut adalah:
1. Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam).
2. Almarhumah Marsinah (Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan.
3. Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Bidang Perjuangan Hukum dan Politik).
4. Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam).
5. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Bidang Perjuangan Bersenjata).
6. Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin (Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi).
7. Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam).
8. Almarhum Tuan Rondahaim Saragih (Bidang Perjuangan Bersenjata).
9. Almarhum Zainal Abidin Syah (Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi).
10. Almarhum Jenderal Besar H.H. Soeharto (Bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik).
Dari 10 penerima, terselip nama Tuan Rondahaim Saragih yang merupakan tokoh asal Sumatera Utara. Berikut kisahnya.
Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah pahlawan nasional baru asal Sumatera Utara yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia lahir pada tahun 1828 di Simalungun dan merupakan keturunan bangsawan Batak yang memimpin Kerajaan Raya Simalungun sebagai raja ke-14.
Dijuluki "Napoleon der Bataks" oleh pemerintah kolonial Belanda karena kepemimpinan dan strategi perangnya yang cerdas dalam melawan penjajah Belanda.
Rondahaim dikenal sebagai pemimpin visioner yang memperjuangkan persatuan kerajaan-kerajaan Batak dan memimpin perjuangan bersenjata yang berhasil mempertahankan wilayahnya dari kolonialisme Belanda hingga akhir hayatnya pada 1891.
Berkat perjuangannya, wilayah Partuanan Raya tidak pernah takluk kepada Belanda selama masa pemerintahannya. Ia juga mendapat penghargaan berupa Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama pada tahun 1999 sebelum diakui resmi sebagai pahlawan nasional.
Kontribusi militer dan strategi Tuan Rondahaim Saragih melawan Belanda sangat signifikan dan mengagumkan dalam sejarah perlawanan di Sumatera Utara. Ia dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan ahli strategi perang yang cerdik, sehingga dijuluki "Napoleon der Bataks" oleh Belanda.
Strategi militernya meliputi:
- Memanfaatkan medan hutan pegunungan Simalungun untuk serangan gerilya mendadak dan pemutusan jalur logistik pasukan Belanda.
- Membangun dan mengorganisasi pasukan terlatih dengan merekrut guru-guru perang dari Aceh dan Gayo.
- Membentuk aliansi pertahanan solid melalui diplomasi dengan kerajaan-kerajaan kecil di Simalungun untuk menghadapi ekspansi Belanda.
- Mengatur pertahanan berbasis benteng alami seperti sungai dan bukit, serta melaksanakan serangan kejutan yang terampil, termasuk membakar perkebunan Belanda.
- Menggunakan taktik "musuh borngin" atau perang malam hari dengan pasukan khusus yang punya penglihatan dan mobilitas tinggi serta pengetahuan geografis yang unggul.
- Mempunyai pendekatan militer yang mirip Napoleon Bonaparte, yaitu menggunakan formasi defensif kuat, artileri, serta kolaborasi antar kavaleri dan infanteri untuk mengalahkan musuh dari jarak jauh sebelum kontak langsung.
- Melatih pasukan gerilya, kavaleri, dan membangun jaringan komunikasi serta diplomasi untuk menguatkan perlawanan bersama.
Catatan pentingnya, wilayah Partuanan Raya selama masa kepemimpinannya tidak pernah berhasil ditaklukkan Belanda, dan pertempuran besar yang dipimpinnya terjadi di Dolok Merawan dan Bandar Padang pada akhir 1880-an.
Keberanian dan kecerdikan strateginya sangat menyulitkan kolonial Belanda, yang sampai menganggapnya sebagai pengacau besar.
Dengan penggabungan diplomasi, strategi gerilya, dan pemanfaatan medan alam secara maksimal, Rondahaim berhasil mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari penjajahan hingga wafat pada 1891.
Tag
Berita Terkait
-
Bobby Nasution Ingin Olahraga Sumut Jadi Industri Berdaya Saing
-
Jelang HUT RI, Ikon Pahlawan Solo Ini Dipoles hingga Bersih
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Wagub Surya: Majukan Pendidikan Nias Barat Butuh Kolaborasi Semua Pihak
-
Gubsu Bobby Nasution Siapkan Rumah Produksi Kelapa di Nias Utara
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Ceria Anak Panti Sambut Kedatangan Jajaran Imigrasi Sumut
-
Semarak HUT ke-81 RI, Bandara Kualanamu Gelar Kegiatan Kemerdekaan hingga Simfoni Nusantara
-
Sadis! Mayat Sopir Taksi Online Terkapar di Kebun Tebu Deli Serdang, Polisi Selidiki
-
BSI Region Medan Catat Pertumbuhan Tabungan Emas 444 Persen
-
SPPG di Karo Disuspend Buntut Ratusan Siswa Keracunan MBG, Kepala SPPG Diperiksa