- Ketua DPN Tani Merdeka menyoroti impor beras Thailand di Pelabuhan Sabang, menuntut pemerintah mengusut dugaan permainan oknum.
- Don Muzakir menyatakan produksi beras nasional surplus 2025, sehingga impor beras bertentangan dengan kebijakan Presiden Prabowo.
- Impor beras Sabang harus jelas tujuannya dan tidak boleh beredar di luar kawasan bebas untuk jaga stabilitas harga petani.
SuaraSumut.id - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir menyoroti adanya praktik impor beras asal Thailand melalui Pelabuhan Sabang, Aceh, Minggu (23/11/2025).
Tak tanggung-tanggung, dia menilai ada indikasi permainan oknum di balik masuknya beras impor tersebut.
Don mendesak pemerintah segera turun tangan mengusut siapa saja pihak yang terlibat dalam proses impor itu.
Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan mengingat impor beras berpotensi merusak stabilitas harga gabah yang telah ditetapkan pemerintah.
"Beras impor itu mau dikemanakan, sementara kita sudah swasembada pangan. Regulasi tersebut tidak boleh bertentangan dengan kebijakan pemerintah pusat, apalagi Presiden Prabowo sudah menyampaikan bahwa tahun ini tidak impor beras," ujar Don Muzakir, Kamis (27/11/2025).
Don menegaskan, produksi beras nasional pada Januari–Desember 2025 mencapai 34,7 juta ton, melebihi target 32 juta ton.
Dengan kondisi surplus tersebut, ia memastikan kebutuhan beras dalam negeri dapat dipenuhi tanpa perlu impor.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan impor, meski diperbolehkan di kawasan bebas seperti Sabang, tetap harus selaras dengan kebijakan pemerintah pusat. Karena itu, Don menuntut Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) memberikan penjelasan rinci terkait tujuan impor tersebut.
"Kebutuhan impor beras untuk apa? Apakah untuk kebutuhan industri di Sabang atau untuk diperjualbelikan di pasar tradisional di luar kawasan Sabang?” tanya sosok juga menjabat Ketua Umum DPP Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera).
Baca Juga: Presiden dan Menteri Perhubungan Digugat LBH Kantara, Tuntut Implementasi UUPA Pelabuhan Aceh
Sambil menunggu penjelasan dari BPKS, Don menegaskan bahwa beras impor yang masuk melalui Sabang tidak boleh beredar di luar kawasan bebas. Ia khawatir hal itu akan merusak harga pasar dan merugikan petani lokal.
Selain itu, Don menyoroti urgensi pengawasan ketat di pelabuhan bebas agar tidak dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
“Kita harus jaga swasembada ini bersama-sama. Kalau petani sudah bekerja keras dan produksi sudah cukup, maka tugas kita adalah melindungi para petani,” tegasnya.
Menurut Don, Tani Merdeka Indonesia akan terus mengawal kebijakan swasembada pangan dengan menjadi “mata dan telinga” pemerintah di lapangan. Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap program Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang telah mendorong capaian swasembada pangan.
Mencuatnya persoalan impor beras melalui Sabang ini, lanjut Don, menjadi pengingat bagi pemerintah daerah agar memperketat pengawasan di kawasan bebas demi menjaga harga gabah tetap stabil dan memastikan ketahanan pangan nasional terjaga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Pemilik Kebun Sawit Eks Torganda Surati DPR-Komnas HAM: Kami Minta Hak-hak Masyarakat Dikembalikan
-
Jangan Dibuang! Biji Delima Ternyata Punya Banyak Manfaat Kesehatan
-
Free Fire Hadirkan Event Storm Arena Jelang FFWS Global Finals 2026 Bangkok
-
Pria 59 Tahun di Banda Aceh Ditangkap, Diduga Lecehkan Dua Anak di Bawah Umur
-
Banjir Aceh Selatan Meluas, 205 Warga Mengungsi dan 794 Jiwa Terdampak