Suhardiman
Jum'at, 06 Februari 2026 | 14:17 WIB
Ilustrasi puasa. [Dok. ChatGPT]
Baca 10 detik
  • Ramadan 2026 di Arab Saudi diperkirakan lebih sejuk dengan durasi puasa 12-13 jam karena jatuh di musim dingin.
  • Penetapan resmi awal Ramadan 2026 tetap menunggu pengamatan hilal pada Februari 2026 sesuai tradisi setempat.
  • Pakar menjelaskan bahwa purnama Februari disebut "Bulan Salju" berdasarkan tradisi, bukan istilah ilmiah astronomi.

SuaraSumut.id - Ramadan 2026 diperkirakan akan membawa pengalaman ibadah yang lebih ringan bagi umat Muslim di Arab Saudi. Sebab, bulan suci tersebut diperkirakan jatuh pada musim dingin, sehingga durasi puasa harian menjadi lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pakar astronomi Arab Saudi, Abdullah Al-Mosned, menyebutkan bahwa waktu puasa selama Ramadan 2026 diperkirakan hanya berkisar antara 12 hingga 13 jam per hari di berbagai wilayah Arab Saudi.

Ramadan yang berlangsung di musim dingin memberikan sejumlah keuntungan baik dari sisi fisik maupun spiritual.

Suhu yang lebih sejuk diperkirakan akan memberikan kenyamanan lebih bagi umat Muslim, baik saat berpuasa di siang hari maupun ketika melaksanakan ibadah malam seperti salat Tarawih.

Durasi puasa yang lebih pendek juga dinilai dapat membantu menjaga stamina jamaah, terutama bagi mereka yang menjalankan aktivitas harian di luar ruangan.

Awal Ramadan Tetap Tunggu Hilal

Melansir dari situs himpun, meski secara astronomi telah diproyeksikan, penetapan awal Ramadan 2026 tetap menunggu hasil pengamatan hilal. Penentuan resmi diperkirakan dilakukan pada Februari 2026, sesuai dengan tradisi yang berlaku di Arab Saudi.

Asosiasi Astronomi Jeddah juga telah menyampaikan perkiraan terkait kemunculan hilal Ramadan berdasarkan perhitungan astronomi.

Disebutkan bahwa Februari menjadi salah satu bulan yang kaya fenomena astronomi. Beragam peristiwa langit menjadikan bulan ini menarik bagi pengamat astronomi untuk memantau bulan, planet, dan bintang.

Namun, pengamatan benda langit yang redup diperkirakan akan terpengaruh pada pekan pertama Februari akibat cahaya bulan yang sangat terang. Hal ini terjadi karena bulan berada pada fase purnama pada 1 Februari.

Ketua Asosiasi Astronomi Jeddah, Majid Abu Zahrah, menjelaskan bahwa istilah “Bulan Salju” yang kerap digunakan untuk menyebut purnama Februari bukanlah istilah ilmiah dalam astronomi.

Ia menyebut istilah tersebut berasal dari tradisi sebagian masyarakat asli Amerika Utara yang mengaitkannya dengan musim salju, dan tidak memiliki dasar ilmiah dalam kajian astronomi modern.

Penjelasan Ilmiah Pergerakan Bulan

Abu Zahrah mengatakan bahwa dalam astronomi, bulan diklasifikasikan berdasarkan posisi geometrisnya terhadap Matahari dan Bumi. Fase purnama, misalnya, terjadi ketika bulan berada pada sudut elongasi sekitar 180 derajat dari Matahari.

Penamaan tradisional tidak memengaruhi sifat fisik bulan maupun cara pengamatannya. Musim, cuaca, dan lokasi geografis juga tidak menentukan fase bulan.

Load More