Suhardiman
Senin, 23 Februari 2026 | 13:21 WIB
Ilustrasi suasana buka puasa bersama di Masjid yang dipadati masyarakat. [Gemini Ai]
Baca 10 detik
  • Masjid Raya Al-Mashun, dibangun 1906 oleh Sultan Deli, adalah pusat ibadah besar dan simbol kekuatan politik awal abad ke-20.
  • Masjid Agung Medan sering menyelenggarakan kegiatan sosial Ramadan seperti buka puasa bersama dan santunan anak yatim bagi masyarakat.
  • Masjid Al-Osmani merupakan masjid tertua di Medan, didirikan abad ke-19, menawarkan pengalaman ibadah yang lebih intim dan reflektif.

SuaraSumut.id - Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus penguatan identitas keagamaan umat Islam. Di Kota Medan, Sumatera Utara, tradisi menghidupkan Ramadan tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan ibadah personal, tetapi juga melalui kunjungan ke berbagai destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Mengacu pada pendekatan pariwisata berbasis spiritual (spiritual tourism), kunjungan ke situs religi bersejarah terbukti memperkuat keterikatan emosional dan identitas kolektif umat. Kota Medan memiliki sejumlah masjid ikonik yang menjadi pusat kegiatan Ramadan, mulai dari salat tarawih berjamaah hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Berikut tempat wisata religi yang layak menjadi destinasi wisata religi Ramadan.

1. Masjid Raya Al-Mashun

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Raya Medan ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dari Kesultanan Deli. Arsitekturnya memadukan gaya Timur Tengah, India, dan Eropa dengan sentuhan Melayu yang kuat.

Selama Ramadan, Masjid Raya Al-Mashun menjadi pusat kegiatan ibadah terbesar di Medan. Ribuan jamaah memadati area masjid untuk melaksanakan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, serta mengikuti ceramah agama dari ulama nasional.

Skala bangunan yang megah dengan kubah hitam khasnya menciptakan atmosfer religius yang mendalam. Secara historis, masjid ini bukan hanya simbol keagamaan, tetapi juga representasi kekuatan politik dan budaya Kesultanan Deli pada awal abad ke-20.

2. Masjid Agung Medan

Masjid Agung Medan dikenal dengan bangunan luas dan fasilitas yang representatif. Kapasitasnya mampu menampung ribuan jamaah, terutama saat malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Selain tarawih dan kajian rutin, masjid ini aktif mengadakan program sosial seperti buka puasa bersama, santunan anak yatim, serta pembagian takjil gratis. Konsep integrasi ibadah dan kepedulian sosial menjadikan masjid ini relevan dalam konteks pembangunan sosial keagamaan perkotaan.

3. Masjid Al-Jihad Medan

Terletak di kawasan strategis Jalan Abdullah Lubis, Masjid Al-Jihad menjadi salah satu pusat kajian Islam yang aktif selama Ramadan. Masjid ini dikenal konsisten menyelenggarakan program dakwah, diskusi keislaman, serta kegiatan berbagi bagi masyarakat kurang mampu.

Lingkungannya yang nyaman dengan komunitas jamaah yang solid menciptakan suasana ibadah yang hangat. Secara sosiologis, masjid ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas umat selama bulan suci.

4. Masjid Al-Osmani

Didirikan pada abad ke-19 pada masa awal Kesultanan Deli, Masjid Al-Osmani merupakan salah satu masjid tertua di Medan. Warna kuning yang mendominasi bangunannya mencerminkan identitas budaya Melayu.

Beribadah di sini saat Ramadan menghadirkan pengalaman yang berbeda: lebih tenang, intim, dan reflektif. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk memahami sejarah perkembangan Islam di kawasan pesisir Sumatera Utara.

Bagi masyarakat maupun wisatawan, menjelajahi masjid-masjid bersejarah di Medan dapat menjadi alternatif kegiatan Ramadan yang produktif dan bermakna.

Load More