- BBKSDA Sumut menyatakan konservasi orangutan tapanuli di Batang Toru memerlukan kolaborasi lintas pihak.
- Novita Kusuma Wardani menegaskan kebijakan konservasi pada Selasa di Medan harus berbasis data lapangan ilmiah.
- Jatna Supriatna mendorong pendekatan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau demi menjaga ekosistem Batang Toru.
SuaraSumut.id - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menyatakan upaya menyelamatkan orangutan tapanuli di kawasan Batang Toru tidak bisa dibebankan kepada satu pihak.
Konservasi membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, peneliti, organisasi nonpemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Hal ini dikatakan oleh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani pada acara Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025 yang digelar BBKSDA Sumut bersama Universitas Indonesia dan Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) UI, di Medan, Selasa (11/8/2026).
"Penyelamatan ini harus dilakukan bersama-sama, tidak hanya dari pemerintah, tetapi masyarakat yang duduk di dalam dan sekitarnya juga merasakan dampak dari kegiatan yang kita lakukan bersama," kata Novita.
Novita menjelaskan, survei yang dilakukan pada 2021 hingga 2023 menunjukkan adanya perubahan populasi orangutan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penelitian dan pemantauan berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan populasi maupun habitatnya.
"Meski satu persen pun dampaknya akan luar biasa bagi orangutan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kebijakan konservasi tidak didasarkan pada informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, informasi di media sosial kerap tidak berbasis data ilmiah dan hanya bersandar pada asumsi.
"Informasi di media sosial itu simpang siur. Tidak berdasarkan ilmiah, hanya berdasarkan asumsi atau mungkin melihat sekilas seolah-olah kerusakan yang terjadi penyebabnya adalah tertentu, tapi ini semua masih asumsi," ungkapnya.
Data lapangan dan hasil penelitian, tegasnya, harus menjadi satu-satunya dasar pengambilan kebijakan. Selain kolaborasi antarlembaga, Novita menekankan bahwa masyarakat di sekitar kawasan harus menjadi bagian utama dari upaya konservasi. Perlindungan kawasan tidak akan optimal apabila kondisi sosial dan ekonomi masyarakat diabaikan.
"Tidak mungkin kita bisa konservasi hanya eksis di kawasan konservasi yang ada. Kalau masyarakatnya lapar, ya nanti akan ada gangguan lagi," cetusnya.
Baca Juga: Viral Pungli Wisata Air Panas Karo Berujung Blokade Jalan, 3 Orang Ditangkap
Semangat kolaborasi itu sejalan dengan visi yang ditawarkan Ketua I-SER UI, Prof. Jatna Supriatna. Dirinya mendorong perubahan pendekatan dari sekadar pemulihan pascabencana menuju pembangunan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Jatna menawarkan konsep "dari bencana menjadi bujana" yang artinya mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang pembangunan yang berkelanjutan. Langkah konkret yang didorong mencakup perluasan kawasan konservasi melalui cagar alam, taman nasional, areal konservasi, dan perhutanan sosial.
Di sisi ekonomi, kawasan hutan dapat dimanfaatkan melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu seperti kopi, karet, dan kakao. Potensi lain yakni kredit karbon, konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat, pembayaran jasa ekosistem, termasuk jasa penyediaan air.
Pengembangan ekowisata juga dinilai berpeluang besar, mulai dari wisata kehidupan liar, sungai, danau, hingga kawasan pantai dan habitat penyu belimbing. Untuk keberlanjutan pendanaan, Jatna mendorong pengembangan trust fund, green bonds, dan sukuk hijau.
Pendekatan ini menempatkan konservasi bukan sebagai penghambat pembangunan, melainkan sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang.
Bagi Tapanuli Selatan yang masih dalam pemulihan pascabencana November 2025, pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum bencana, tetapi juga membangun sistem yang lebih tangguh terhadap perubahan lingkungan di masa mendatang.
Dengan berbasis penelitian, memperhatikan karakteristik alam, melibatkan masyarakat, serta membuka peluang ekonomi hijau, kawasan Batang Toru diharapkan tetap mampu menjalankan fungsi ekologisnya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Tapanuli Selatan secara berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Rumah Satwa Endemik Tergerus Saat Perlindungan Konservasi Hanya di Kertas
-
Terjebak Karhutla, Induk dan Anak Orangutan Diselamatkan
-
Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan
-
Cakupan Konservasi Halmahera Diperluas, Pemantauan Biodiversitas Kini Sentuh 40 Titik
-
GeoPix Tegaskan Konservasi Harus Berpihak Nyata pada Alam dan Satwa
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
BRImo Ramaikan Pestapora 2026, Ada Ragam Program Spesial untuk Pengunjung
-
Samsung Galaxy A08 Resmi di Indonesia, Baterai 6.000 mAh, Fitur AI dan Update 6 Tahun
-
7 Provinsi dengan Jumlah PHK Terbanyak di Indonesia
-
Bitget Diretas US$351,6 Juta, Pengamat Kripto Sebut Alarm Serius Keamanan Bursa Aset Digital
-
5 Hal yang Bikin Tikus Betah di Rumah, Bukan Cuma Sisa Makanan