Rangkul Milenial Kawal Reformasi
Gerakan reformasi 98 adalah gerakan sosial transformatif yang tidak memiliki kepemimpinan tunggal. Simpul-simpul rakyat, komunitas, bergerak memiliki pemimpin kelompoknya sendiri-sendiri.Tidak ada aktor tunggal aktivis 98.
Para mantan aktivis 98 yang berhimpun dalam wadah Majelis Nasional Perhimpunan Pergerakan 98 yang di deklarasikan pada 12 Desember 2020. Sebagian besar aktivis Perhimpunan Pergerakan 98 adalah mantan aktivis Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima ) era 90-an.
Mereka melihat perkembangan pasca 23 tahun Soeharto lengser atau yang dikenal sebagai era reformasi, Majelis Nasional Perhimpunan Pergerakan 98 berkesimpulan lonceng kematian reformasi sudah terdengar.
Baca Juga:Pria Bojonegoro Galau, Lalu Nyaru Jadi Waria Terus Curi BH dan CD Wanita
Untuk itu, mereka akan merangkul milenial yang juga mahasiswa untuk meneruskan perjuangan reformasi.
"Saat ini adalah masa peralihan sehingga kami ingin mengisi ruang-ruang kosong agar peralihan ini diketahui oleh mahasiswa yang lain yang sekarang ini sedang mencari jati diri. Kita sudah sepakat, kita akan terus melakukan pendidikan politik ke adik-adik kampus. Makanya kita disini ada juga strukturnya koordinator perguruan tinggi. Tentunya itu yang muda-muda yang memiliki mobilitas kampusnya lebih tinggi," paparnya.
Sahat mengungkapkan, bersama rekan-rekannya mereka hanya ingin menjaga agar arah perjuangan tidak melenceng. Bahwa gerakan moral 98 itu harus dititpkan ke yang muda-muda. Apalagi, saat ini rata-rata usia mereka sudah diatas 45 tahun.
"Sebetulnya kami juga capek, kami juga lelah. Tapi kami tidak bisa diam. Supaya masyarakat tau bahwa oligarki ini tidak boleh hidup berlama-lama di Indonesia. Agar kita semua sama-sama membentuk barisan mempertahankan Indonesia. Kemudian kita menjaga keutuhan negara ini. Maka dari itu kami akan melawan, sampai kapan pun kami akan melawan," tegasnya.
"Tapi sekaligus kita ingin memperingatkan pemerintah bahwa reformasi belum selesai. Keadilan sosial, keadilan politik dan keadilan ekonomi harus kita perjuangkan bukan kita tunggu jatuh dari langit," tukas Sahat.
Kontributor: Budi Warsito
Baca Juga:Jadi Wali Kota Solo, Ini Gaya Gibran Rakabuming Raka dan Presiden Jokowi