Kisah Pilu Ratusan Pelajar di Pedalaman Madina ke Sekolah, Jalan Kaki 6 KM di Tengah Hutan hingga Seberangi Sungai

Perjuangan sekolah anak-anak di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, bikin sedih dan haru.

Riki Chandra
Kamis, 13 Oktober 2022 | 13:24 WIB
Kisah Pilu Ratusan Pelajar di Pedalaman Madina ke Sekolah, Jalan Kaki 6 KM di Tengah Hutan hingga Seberangi Sungai
Anak-anak sekolah dari perbukitan tor Pulo melewati sungai Batang Gadis saat berangkat ke sekolah di Desa Muara Batang Angkola Kecamatan Siabu, Madina. [Dok.Antara]

SuaraSumut.id - Perjuangan sekolah anak-anak di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, bikin sedih dan haru. Mereka harus jalan kali di tengah hutan hingga menyeberangi sungai.

Mereka merupakan warga suku Nias yang bermukim diperbukitan Tor Pulo, yakni Dusun Lubuk Sihim dan Aek Tombang, Desa Muara Batang Angkola, Kecamatan Siabu.

Setiap hari, ada ratusan siswa dari tingkatan Sekolah Dasar (SD) dan Tingkatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) harus berjibaku menuruni bukit terjal dan berlumpur menuju sekolah.

Mereka berangkat subuh melintasi hutan. Menenteng sepatu dan tas, nanti dipasang setelah sampai induk desa. Berjam-jam berjalan. Sesekali bertemu gerombolan monyet liar, babi hutan, atau binatang buas lain.

Baca Juga:Pacar Lucinta Luna Oppa Korea Tapi Pengangguran: Yang Penting Ganteng, Tinggi

Enam Kilo Meter (KM) diremang subuh agar tak terlambat sekolah. Tanpa ditemani oleh orang tua. Siswa kelas 1 SD hingga SMP itu menggunakan lampu teplok dan senter melewati dingin dan gelapnya malam.

Tak itu saja, sesampainya di tepi sungai Batang Gadis mereka harus menyeberangi sungai dengan "Getek" (rakit tradisional) ke seberang. Tak jarang juga para siswa itu harus menyeberangi sungai apabila sungai sedang surut.

Kepala Dusun Lubuk Sihim, Desa Muara Batang Angkola, Mustiaman Harefa mengatakan, setiap harinya ada ratusan anak sekolah dari beberapa dusun yang ada didaerah itu berjalan kaki ke dua tingkatan sekolah yang ada di Kecamatan Siabu.

Mereka menempuh jarak dengan kilometer yang bervariasi. "Kalau dari Aek Tombang siswa harus berjalan 6 kilometer bila ke hendak sekolah ke SD di desa induk. Kalau dari dusun kita (Lubuk Sihim) sekitar 3 kilometer," ujarnya, Kamis (13/10/2022).

Dia menyebut, para siswa bila ke sekolah tanpa ditemani orang tua. Mereka harus bangun jam 04.30 Wib dan selanjutnya berangkat menimba ilmu.

Baca Juga:Wapres Ma'ruf Amin Jamin Masyarakat Dapat Bansos di Tengah Krisis Global

"Kalau dari tor Dairi, banjar Lasiak mereka berangkat jam 04.30, pakai pakaian sehari-hari. Sesampainya di desa induk baru diganti dengan seragam sekolah," jelas dia.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini