Lafran Lane lahir di Sipirok, Padang Sidempuan 5 Februari 1992. Ia wafat pada usai 69 tahun di Yogyakarta, 24 Januari 1991. Beliau dikenal sebagai tokoh pergerakan pemuda dan memprakarsai pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari 1947.
9. Zainul Arifin
K.H. Zainul Arifin lahir di Barus, Tapanuli Selatan (Tapsel), pada 2 September 1909.
Selama era pendudukan militer Jepang, beliau ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan terlibat dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah.
Ditengah meningkatnya suhu politik, pada 14 Mei 1962, saat salat Iduladha di barisan terdepan bersama Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam percobaannya membunuh presiden.
Baca Juga:Meluncur di GIIAS 2023, Berikut Harga, Spesifikasi dan Fitur Hyundai STARGAZER X
Beliau wafat tanggal 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan. Selain dianugerahi Pahlawan Nasional, nama Zainul Arifin diabadikan sebagai nama jalan di Medan.
10. Ferdinand Lumban Tobing
Dr. Ferdinand Lumban Tobing atau F.L Tobing lahir di Sibuluan, Sibolga, 19 Februari 1899. Saat menjadi dokter di CBZ beberapa tahun, ia kemudian sering dipindahtugaskan. Pada 1931, dia dipindahkan ke Surabaya dan ditugaskan di bagian penyakit dalam.
Tahun 1935, dia dipindahkan lagi ke daerah Tapanuli yang merupakan tanah kelahirannya. Di daerah Tapanuli, pertama-tama dia ditempatkan di Padang Sidempuan, kemudian dipindahkan ke Sibolga, ibukota Karesidenan Tapanuli.
Pada saat pecah Perang Dunia II diiringi dengan peralihan kekuasaan di Indonesia dari Belanda kepada Jepang pada 1942 memberikan pengalaman berharga bagi Dr. Ferdinand Lumban Tobing.
Baca Juga:3 Alasan Aji Santoso Bakal Sukses di Persikabo 1973
Dr. F.L. Tobing meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962 pada usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Namanya kemudian diabadikan di sebuah Rumah Sakit Umum di Sibolga dan bandar udara di Pinangsori, Tapanuli Tengah.