Potret Suram Pesisir Sumut, Antara Deforestasi dan Perubahan Iklim

Dirinya merasa tak berdaya dengan hasil tangkapannya semakin sedikit.

Suhardiman
Jum'at, 06 Oktober 2023 | 13:55 WIB
Potret Suram Pesisir Sumut, Antara Deforestasi dan Perubahan Iklim
Sazali Sinaga, nelayan tradisional di Desa Sei Siur, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. [Ist]

"Kita tidak tidak menutup diri dengan sumber pendanaan lain non APBN. Ini sedang di-arrange untuk dana asing, dari Bank Dunia, yang akan masuk sedang proses," katanya.

Sumatera Utara, termasuk dalam 9 provinsi yang menjadi prioritas rehabilitasi mangrove bersama dengan Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat yang difasilitasi Badan Rehabilitasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Pokja RM bertanggung jawab untuk mengelola dan merehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia. Pokja rehabilitasi mangrove terdiri dari berbagai instansi pemerintah, lembaga penelitian, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat pesisir yang berkepentingan dengan konservasi dan restorasi mangrove di bawah koordinasi BRGM.

Potret mangrove lestari, nelayan berseri

Baca Juga:Bertemu Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Kaesang Diberi Tiga Wejangan Ini

Di luar potret kerusakan mangrove itu, di ujung Jalan Young Panah Hijau, Gang Tower, Labuhan Deli, Medan Marelan, memberi contoh yang baik bagaimana mangrove yang lestari memberi manfaat bagi banyak orang.

Seorang pria bernama Selamat mengajak naik ke perahu sembari bercerita kondisi tempatnya menggantungkan hidup dari tangkapan di pesisir. Dia menegaskan, meskipun tinggal di dekat laut, orang tuanya bukanlah pelaut, melainkan petani. Sekitar tiga ratus meter dari pondoknya, dia menghentikan perahunya di bawah tower listrik.

"Di titik ini, dulunya adalah sawah. Orang tua saya adalah petani padi, di sini ini lah sawahnya, pas dekat dengan tower ini," katanya.

Wilayah yang kini berair itu dulunya areal persawahan dan daratan yang ditanami kelapa. Tahun 1978, ada pembangunan tower listrik dan pembuatan parit. Pada saat itu lah air asin masuk ke areal persawahan dan daratan. Petani saat itu tak bisa berbuat banyak meski tak lagi bisa menanam padi.

"Masuknya air asin secara perlahan sehingga tidak bisa bercocok tanam padi dan kelapa jadi sekarang ini inilah yang bisa tumbuh di wilayah ini hutan-hutan di sini," katanya.

Baca Juga:Kini Ditutup, Lady Nayoan Ternyata Dapat Omzet Puluhan Juta Rupiah Sekali Jualan Live di TikTok Shop

Dengan kondisi yang terjadi, masyarakat pun mulai meninggalkan wilayah itu. Kemudian masuk tambak udang dan ikan di tahun 1980-1990 an. Tak berlangsung lama dan ditinggalkan begitu saja sehingga tandus. Sejak 7 - 8 tahun yang lalu, beberapa orang yang sadar dengan kondisi lingkungannya mulai berbenah dengan menanami mangrove. Masyarakat itu membentuk kelompok tani. Setelah mangrove berhasil tumbuh dengan baik, nelayan tradisional mulai bisa mengambil manfaatnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini