Dulunya dalam satu hari dia pergi pagi pulang menjelang siang, kemudian usai makan siang hingga sore. Penghasilannya mencapai Rp 1 juta. Dia menggaji keneknya Rp 200 ribu per hari.
"Itu dulu. Sekarang enggak usah kan kita Rp 800 ribu, dapat Rp 50 ribu aja udah alhamdulillah. Nggak usah untuk gaji kenek, untuk kehidupan keluarga sendiri saja gak cukup," cetus Dedi.
Menjadi buruh bangunan sudah dijalaninya sejak 7 tahun lalu mulai dari Medan, Langkat, hingga ke Aceh. Kondisi sekarang memaksanya harus menjadi buruh bangunan, meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan dengan penghasilan yang tidak lebih tinggi dari menjadi nelayan saat itu.
"Saya rindu sekali menjadi nelayan. Bahkan sudah beli usaha (perahu), harganya puluhan juta. Sia-sia karena tangkapannya nggak ada. Sejak tidak jadi nelayan, beralih profesi menjadi kuli bangunan, saya merantau meninggalkan anak istri karena saya memang sudah tak sanggup lagi di Pangkalan Susu ini menjadi nelayan," jelas Dedi.
Baca Juga:Bertemu Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Kaesang Diberi Tiga Wejangan Ini
![Nelayan tradisional Selamat. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/original/2023/10/06/31608-nelayan-tradisonal.jpg)
Dampak pengerukan pasir untuk bandara dan trawl
Di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, nelayan tradisional juga mengalami kesulitan dengan hilangnya mangrove yang diduga akibat pengerukan pasir untuk bandara pada tahun 2008. Di desa ini, puluhan hektare mangrove lenyap setelah abrasi tak terelakkan. Dugaan kuat penyebabnya adalah pengerukan pasir laut pada tahun 2008.
"Dulu pantai ini masih jauh ke tengah sana sekitar 200 meter. Terjadinya abrasi salah satu penyebabnya adalah pengerukan pasir untuk Bandara Kualanamu. Dulunya mangrove di sini sangat bagus. Hitungan 10 tahun, sudah tergerus 200 meter. Hutan mangrove yang kami tanam ini 20 tahun lalu lenyap," ujar Ketua Serikat Nelayan Deli Serdang, Abdul Ajid.
Tantangan lainnya adalah trawl di wilayah tangkapan nelayan tradisional, sejauh 12 mil namun faktanya di jarak 200-300 meter dari bibir pantai. Nelayan tradisional harus berhadapan dengan kapal-kapal dari daerah lain yang menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan. Nelayan tradisional setiap hari terpaksa harus mencari ikan lebih jauh dari sebelumnya, karena di wilayah yang dekat dengan pantai sudah rusak.
"Jadi nelayan tradisional ini ada yang ke laut hitungan seminggu baru pulang, tapi ada juga ibu-ibu atau yang sudah tua cari ikan, kerang, kepiting dan udang di dekat-dekat sini. Nah ini sudah sedikit sekali tangkapan. Semakin berlumpur. Sebelum ada pengerukan pasir tak pernah seperti ini," katanya.
Baca Juga:Kini Ditutup, Lady Nayoan Ternyata Dapat Omzet Puluhan Juta Rupiah Sekali Jualan Live di TikTok Shop
Berkurangnya tangkapan nelayan tradisional akibat hilangnya mangrove yang selama ini menjadi tempat berkembangbiaknya ikan, kepiting, udang, kerang dan lainnya. Menurutnya, lebih dari 10 hektare mangrove yang ditanam dulu sudah hilang.