Potret Suram Pesisir Sumut, Antara Deforestasi dan Perubahan Iklim

Dirinya merasa tak berdaya dengan hasil tangkapannya semakin sedikit.

Suhardiman
Jum'at, 06 Oktober 2023 | 13:55 WIB
Potret Suram Pesisir Sumut, Antara Deforestasi dan Perubahan Iklim
Sazali Sinaga, nelayan tradisional di Desa Sei Siur, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. [Ist]

Ia bersama dengan kelompok tani maupun lembaga yang perhatian terhadap nasib nelayan dan pesisir sudah berupaya keras untuk terus melakukan penghijauan. Saat ini tersisa sedikit saja hutan mangrove dan jika abrasi tidak bisa dihempang, benteng terakhir itu akan hilang. Ujungnya adalah air laut semakin masuk ke daratan.

"Kalau laut semakin masuk ke daratan, siap-siap yang terburuk. Sudah ada buktinya, ratusan meter sudah ditelan laut," ungkapnya.

Terombang-ambing seminggu di lautan untuk hidup sehari

Tokoh masyarakat di Desa Paluh Sibaji, Abdul Hamid menjelaskan, nasib nelayan tradisional saat ini sudah sangat drastis berubah. Tahun 1980-an, nelayan mencari ikan satu hari untuk hidup satu minggu. Sekarang untuk mencari ikan, harus ke laut selama seminggu, modalnya utang dan baru dibayar setelah pulang dari laut.

Baca Juga:Bertemu Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Kaesang Diberi Tiga Wejangan Ini

"Bayangkan, kek gitu itu sama dengan ke laut seminggu untuk hidup satu hari. Begitulah sulitnya sekarang in," katanya.

Tak hanya jumlah tangkapan yang berkurang, jenis tangkapan juga semakin sedikit. Padahal dulunya bagi nelayan tradisional di Pantai Labu, mencari ikan ibarat menjemput. Dari rumah bawa alat tangkap seadanya, pulangnya sudah bisa bawa berbagai tangkapan laut dalam jumlah banyak. Dirinya berharap masalah yang dialami nelayan tradisional menjadi perhatian oleh banyak pihak.

"Kalau tidak ada penanggulangan, kampung ini bakal tenggelam. Habis. Harus ada pemasangan tanggul, pemulihan mangrove. Ini untuk memecah ombak dan mencegah abrasi. Masyarakat akan semakin miskin dan meninggalkan desa karena laut tak lagi menghidupi," akunya.

Dari tambak, sawit hingga dapur arang

Beberapa waktu lalu, pakar tropical ecology and biodiversity conservation, Fakultas Kehutanan USU Onrizal mengaku, berbicara deforestasi mangrove bisa dimulai dari massifnya usaha pertambakan udang dan ikan pada tahun 1970-an.

Baca Juga:Kini Ditutup, Lady Nayoan Ternyata Dapat Omzet Puluhan Juta Rupiah Sekali Jualan Live di TikTok Shop

Usaha pertambakan udang dan ikan itu meredup seiring munculnya penyakit/hama dan sulit dikendalikan hingga kini. Usaha pertambakan di wilayah pesisir menuntut alih fungsi hutan mangrove yang menjadi pelindung pantai dari abrasi. Setelah tambak, yang menjadi penyebab deforestasi di hutan mangrove ini adalah perkebunan kelapa sawit.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini