Terdapat tiga kampung di Desa Sihaporas, yaitu Lumban Ambarita Sihaporas, Sihaporas Bolon dan Sihaporas Aek Batu. Berdasar data tahun 2020, terdapat 120 kepala keluarga dengan jumlah warga 288 jiwa laki-laki dan 330 perempuan. Penduduk Sihaporas terbilang homogen, keluarga klan/marga Ambarita. Umumnya kepala keluarga marga Ambarita, atau istrinya boru Ambarita, atau berenya Ambarita.
Ketua Umum Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) Mangitua Ambarita mengatakan, tanah nenek moyangnya sudah ditempati sejak kurang lebih 220 tahun silam. Martua Boni Raja alias Ompu Mamontang Laut Ambarita menyeberangi Danau Toba dari Ambarita di Pulau Samosir ke arah timur laut menuju Dolok Mauli, dekat Sipolha.
Dari sana Ompu Mamontang Laut Ambarita 'mamukka huta' membuka perkampungan yang dinamai Sihaporas. Hingga kini, turun-temurun 11 generasi. Mereka mengelola tanah adat leluhur. Tanah Sihaporas bahkan, telah diakui penjajah Belanda. Terbukti dengan terbitnya peta Enclave 1916 (29 tahun sebelum Indonesia merdeka).
Mereka bukan penggarap tanah. Terdapat 6 orang tetua desa Sihaporas juga menjadi pejuang Kemerdekaan RI. Misalnya, Yahya Ambarita mendapat piagam legiun Veteran RI dari Menteri Pertahanan RI LB Moerdani tahun 1989.
Lalu Firman Ambarita (Ompu Dimma), Ranto Ambarita (Ompu Agus), pasangan suami istri, Gabuk Ambarita (Ompu Rumondang) dan Viktoria Br Bakkar (Ompu Rumondang boru).
Pengolahan tanah Sihaporas memang dilakukan secara adat. Setiap kegiatan, mulai membuka lahan sampai panen, dilakukan dan diwarnai tradisi adat yang kental.
Seperti membuka lahan disebut 'manoto', menggelar doa untuk meminta berkat dan permisi kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Mahakuasa), juga semacam pemberitahuan kepada alam semesta, bahwa akan dimulai menebang pohon.
Saat hendak bercocok tanam padi darat (huma) dilakukan tradisi 'manjuluk'. Saat padi bunting, dilaksanakan tradisi 'manganjab', yaitu ritual bersama-sama di perhumaan. Dilaksanakan doa mohon kesuburan dan keberhasilan panen.
Acara menganjap juga diwarnai tradisi 'marsibak', mengolah bahan makanan berbahan jagung, dicampur dedaunan untuk permentasi. Rangkaian selanjutnya, 'robu juma' (pantang berladang) selama tiga hari, ‘robu harangan’ (pantang ke hutan) tiga hari, dan pada hari ke-7 dilakukan manangsang robu (buka pantang) yang diisi kegiatan doa, lanjut berburu ke hutan.
Saat panen, dikenal dilakukan 'sipahalima'. Pemotongan bulir padi, didahului mengumpulkan tujuh gulungan buliran padi, lalu disimpan di bubungan gubuk. Setelah selesai panen, diadakan pesta dan doa bersama.