SuaraSumut.id - Nasib warga di bantaran Sungai Deli, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, dari waktu ke waktu belum mendapat kejelasan.
Sudah beberapa kali pergantian Wali Kota Medan, namun nasib mereka tetap sama, menjadi korban langganan banjir.
Mereka tetap menguras rumah, membersihkan jalan dan mengeringkan pakaian saat banjir datang akibat hujan.
Bukan pasrah dengan keadaan atau tidak mau diatur pemerintah, tapi mereka sudah 'enek' dengan janji-janji yang disampaikan pasangan calon yang bertarung di Pilkada Medan.
"Selalu saja janjinya memperbaiki tempat kami (banjir). Pokoknya yang manis-manis lah. Semua Wali Kota terpilih sampai gubernur sudah datang ke sini, tapi tak ada solusi untuk nasib kami," kata salah seorang warga bernama M Nur (60), Rabu (30/9/2020).
Luapan air Sungai Deli menjadi bagian hidup yang telah mengajari mereka ilmu mitigasi bencana.
"Kalau sudah banjir, kami angkat barang ke lantai dua. Nanti kalau surut kami bersihkan lumpurnya," ujarnya.
Bagi Nur, hidup berdampingan dengan banjir merupakan rutinitas yang selalu datang menjelang penghujung tahun.
Bahkan, volume banjir mulai meningkat sejak tahun 2000. Bahkan pada tahun 2001 banjir dengan ketinggian 2 meter.
"Rata-rata memang dibuat lantai 2 untuk evakuasi jika banjir datang. Kami udah terbiasa, jadi kalau banjir sudah siap-siap angkat barang yang penting-penting," ujarnya.
Baca Juga: Ratusan Spanduk Sosialisasi Pilkada di Samarinda Belum Dilepas
Nur mengatakan, banjir yang melanda karena tidak berfungsinya bendungan air atau kanal di Delitua.
Semestinya, kanal itu dapat menampung volume air yang masuk ke sungai sehingga tidak meluap.
"Apa fungsinya kanal (bendungan) itu, kalau masih banjir tempat kami. Kalau memang ada niat pemerintah, tak lama mengatasi banjir ini," kata Nur.
M Nur mengatakan, salah satu contoh wilayah yang dahulu menjadi langganan banjir adalah kawasan Multatuli. Namun setelah dikelola oleh pengembang maka wilayah itu bebas banjir.
Oleh karena itu, warga enggan menerima tawaran relokasi dari pemerintah sebagai solusi. Sebab, mereka meyakini usai ditinggal tanah tersebut akan diambil alih pengembang untuk dibangun perumahan dan sejenisnya.
"Yakinlah kalau kami tinggal pasti dibangun mereka ini jadi perumahan. Udah kita tengok itu contohnya Multatuli," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Imigrasi Sumut Sapu Bersih Penghargaan di Bimtek PIMPASA 2026
-
Pria Hina Yesus saat Live TikTok Ditetapkan Jadi Tersangka Penistaan Agama
-
Remaja Hanyut di Sungai Langkat Ditemukan Meninggal Dunia
-
Viral Guru Agama di Deli Serdang Diamuk Warga Diduga Lecehkan Siswi SD
-
BRI Hadirkan Qlola Mobile, Permudah Transaksi Bisnis dalam Genggaman