Scroll untuk membaca artikel
Farah Nabilla | Lintang Siltya Utami
Kamis, 03 Desember 2020 | 15:49 WIB
Kerangka harimau bertaring. [Fabrice Coffrini/AFP]

SuaraSumut.id - Kerangka harimau berusia 37 tahun akan dilelang dengan harga senilai Rp. 1,2 miliar.

Susunan tulang belulang harimau bertaring tajam itu akan dilelang pada 8 Desember mendatang di Jenewa, Swiss.

Kerangka harimau tersebut ditemukan setahun lalu di sebuah peternakan di Amerika Serikat.

Kerangka yang memiliki panjang sekitar 120 sentimeter itu diperkirakan akan dilelang dengan harga antara 66.650 dolar AS atau sekitar Rp 941 juta hingga 88.750 dolar AS atau sekitar Rp 1,2 miliar.

Baca Juga: Industri Biodiesel Bantu Ekonomi Negara di Tengah Pandemi

"Fosil ini luar biasa, terutama untuk pelestariannya yang berusia 37 juta tahun dan sudah 90 persen selesai. Beberapa tulang yang hilang dibuat ulang dengan printer 3D," kata Bernard Piguet, direktur rumah lelang Piguet, seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (3/12/2020).

Tulang asli kerangka ini milik Hoplophoneus, genus dari keluarga Nimravidae yang telah punah dan berkeliaran di sekitar Amerika Utara. Mamalia predator yang punah itu biasa disebut harimau bertaring tajam.

Kerangka harimau bertaring. [Fabrice Coffrini/AFP]

Menurut seorang kolektor asal Swiss, Yann Cuenin, kerangka tersebut ditemukan di South Dakota selama musim penggalian terakhir, menjelang akhir musim panas 2019. Sama seperti sebagian besar penemuan, pemilik peternakan melihat tulang mencuat dari tanah.

Pelelangan yang akan dilakukan pekan depan adalah kedua kalinya diadakan di Swiss. Sebelumnya pada September 2019, kerangka dinosaurus (Thescelosaurus neglectus) berusia 66 juta tahun dengan panjang tiga meter dibeli oleh seorang kolektor lokal seharga sekitar Rp 3,5 miliar.

Perdebatan antara pelelangan semacam itu dengan nilai ilmiah benda bersejarah telah menjadi topik panas di antara para ilmuwan dan kolektor.

Baca Juga: Ditemukan, Fosil Burung Tukan Aneh yang Hidup dengan Dinosaurus

Beberapa ahli paleontologi bersikeras bahwa fosil hewan atau tumbuhan bukanlah benda dekoratif bagi kolektor, tetapi sebagai saksi evolusi kehidupan di Bumi. Karena itu, benda ilmiah seharusnya dapat dipelajari dan diperlihatkan kepada publik sebagai bagian dari ilmu pengetahuan di museum.

Load More