Scroll untuk membaca artikel
Suhardiman
Senin, 14 Juni 2021 | 12:22 WIB
Riki Santri Kurniawan (24) menunjukkan tulang sotong yang akan di ekspor ke Tiongkok. [Suara.com/ Budi Warsito]

Dalam sehari, ibu-ibu tersebut berpenghasilan sekitar Rp 100 - Rp 120 ribu. Pekerjaan itu hany dilakukam dari Pukul 08.00 sampai Pukul 11.00 WIB.

"Karena gak main lipan kasian juga mereka bang. Kalau Tulang Sotog inikan hak terlalu banyak orang ngerjakannya. Beberapalah yang kita pekerjakan," ungkapnya.

Pernah Alami Kerugian Besar

Riki mengaku selama pandemi Covid-19 pernah mengalami kerugian yang besar. Saat itu, ia mengirim rempah-rempah ke Tiongkok.

Baca Juga: Kasus Suap Banprov Indramayu, Penahanan Ade Barkah dan Siti Aisyah Ditambah 30 Hari

Sebanyak 19 ton barang yang dikirimnya ke Tiongkok rusak. Hal itu membuatnya merugi. Setelah itu, melalui pengiriman tulang sotong Riki mulai bangkit perlahan-lahan.

"Sempaat main rempah, kita kirim buah pala ke Tiongkok bulan Oktober lalu. Cuma gagal bang. Kita kirim hampir 19 ton, sampai disana busuk semua palanya," ungkap Riki.

Ia tak mengungkapkan berapa jumlah total kerugian yang dialaminya. Namun, pandemi Covid-19 yang terjadi juga mempengaruhi perekonomiannya.

"Kerugiannya banyaklah bang. Gak tau penyebabnya bisa busuk," tandasnya.

Saat ini, kata Riki, Sumatera Utara merupakan satu-satunya eksportir tulang sotong. Untuk Indonesia hanya ada tiga eksportir yang mengirim tulang sotong ke Tiongkok.

Baca Juga: Duh! Bahasa China Jadi Syarat Wajib Masuk Perusahaan Ini, Mau Singkirkan Pekerja Lokal?

"Di Indonesia untuk saat ini yang main sotong Medan, Surabaya, Makassar. Tapi yang Makassar kirim melalui Surabaya," jelas Riki.

Load More