Scroll untuk membaca artikel
Suhardiman
Kamis, 01 Juli 2021 | 10:47 WIB
Monumen Guru Patimpus di Jalan Gatot Subroto Medan. [Suara.com/M Aribowo]

Pada tahun 1612, Kota Medan mulai memasuki masa kesultanan. "Medan awalnya kesultanan dari Gocah Pahlawan, dia adalah utusan Aceh yang dikirim kemari," kata Rizky.

Namun sebelum kedatangan Gocah Pahlawan sebagai Sultan Deli pertama, lanjutnya menjelaskan di Kota Medan sudah ada kedatukan.

"Kemudian diangkatlah oleh empat Datuk tadi Gocah Pahlawan, jadi seorang Sultan, tetap dibawah pengaruh Aceh," ungkapnya.

Pada masa Kesultanan Deli, perekenomian kota Medan mengalami pertumbuhan yang baik. "Perekonomian perdagangan mulai dari cukai, kemudian hasil hutan," imbuh Rizky.

Baca Juga: Gara-gara Terpapar Covid-19, Pria Ini Hanya Bisa Melihat Pemakaman Ibunya dari Ponsel

Selanjutnya pada tahun 1860-an, Kota Medan memasuki masa kolonialisme Belanda.

"Belanda datang melalui Siak, daerah Riau," ungkapnya.

Belanda masuk dari Siak, karena Aceh pada waktu itu belum bisa ditaklukkan. Di masa Belanda perekonomian berkembang pesat melalui perkebunan, terutama kebun tembakau yang mencapai kegemilangannya. Disini, tembakau tumbuh dengan subur.

"Makanya Kota Medan logonya tembakau, karena memang dari dulu simbol kota, termasuk juga PSMS Medan. Sekarang sudah hilang, jadi istilah deli penghasil tembakau tinggal nama, tinggal logo," tutur Rizky.

Kota Medan Majemuk, Miniatur Indonesia

Baca Juga: Nekat! Komplotan Maling Satroni Rumah Anggota Marinir di Pasar Minggu, 2 Motor Digondol

Memasuki zaman kemerdekaan Republik Indonesia, mulai tahun 1945 hingga sekarang, perekonomian Kota Medan semakin maju lebih pesat dari sebelumnya.

Load More