Scroll untuk membaca artikel
Suhardiman
Kamis, 30 September 2021 | 10:48 WIB
Relief Komando Aksi Pemuda berunjukrasa menentang PKI di Medan. [Suara.com/M. Aribowo]

Pada 13 Oktober, sebuah kabel diplomatik AS memperingatkan bahwa "pertempuran diperkirakan terjadi"; itu belum dimulai." Faktor kuncinya adalah bahwa Angkatan Darat terbagi tajam menurut garis kelembagaan dan ideologis.

Selama minggu kedua Oktober, satuan-satuan TNI Angkatan Darat dari Jawa yang telah ditempatkan di Sumut dalam rangka konfrontasi diperintahkan untuk pulang, meninggalkan kekosongan di daerah-daerah kunci di selatan Medan.

Khawatir dia tidak dalam posisi yang cukup kuat untuk melakukan gerakan anti-komunis, Mokoginta bergerak dengan hati-hati untuk menunjuk perwira baru ke pos-pos kunci, membersihkan pasukan pertahanan sipil PKI yang kuat, dan memberikan senjata kepada pekerja perkebunan yang anti-komunis.

Tugu Pahlawan Ampera di Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. [Suara.com/M.Aribowo]

Ia dan jajarannya juga mendorong Komando Aksi Pemuda dan elemen-elemen anti-komunis lainnya di Medan untuk meningkatkan militansi mereka sendiri. Salah satu sasarannya adalah Konsulat RRT, yang menolak mengibarkan bendera setengah tiang seperti yang diminta oleh Angkatan Darat.

Baca Juga: Khawatir Rusak Ekosistem, KKP Panggil Pertamina Terkait Tumpahan Minyak di Aceh

Dua pemuda tewas dihajar PKI di Kampung Kolam

Meningkatnya militansi anti-komunis juga memicu perkelahian jalanan antara kelompok pemuda yang bersaing, mengakibatkan pembunuhan dua mahasiswa anti-komunis oleh anggota organisasi Pemuda Rakyat PKI pada 25 Oktober di Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Titik balik datang keesokan harinya. Pada 29 Oktober, Komandan Bukit Barisan Brigadir Jenderal Darjatmo digantikan oleh Brigadir Jenderal Sobiran, yang oleh para pejabat AS digambarkan sebagai "anti-Komunis yang kejam."

Yakin bahwa mereka telah mengkonsolidasikan kendali atas barisannya sendiri, Angkatan Darat tidak membuang waktu untuk memulai demonstrasi massa.

Pada 2 November, diperkirakan 100.000 orang berunjuk rasa di pusat kota Medan menuntut PKI dibubarkan. Gubernur Ulung Sitepu dicopot dari jabatannya, hubungan diplomatik dengan RRT diputus, dan Baperki dibubarkan dan harta bendanya disita.

Baca Juga: Rajin Olahraga dan Jaga Pola Makan, Ini 9 Potret Body Goals Salmafina Sunan

Demonstrasi ini merupakan isyarat untuk penyerangan terhadap PKI dan organisasi afiliasinya. Pembantaian massal pun tak terelakkan. Pada tanggal 8 November 1965, Kedutaan Besar AS melaporkan "upaya sistematis untuk menghancurkan PKI di Sumatera bagian utara dan pembunuhan besar-besaran" dan bahwa ratusan orang saat itu dibunuh setiap hari di Sumatera Utara".

Load More