Suku Nias memiliki tradisi yang berbeda dari suku-suku di Sumatera Utara lainnya. Jika suku lain menggunakan warna merah pada banyak pakaian adatnya, maka Suku Nias umumnya menggunakan warna kuning dan emas.
Sedangkan perempuan dari Suku Nias memiliki pakaian tradisional yang diberi nama Oroba Si Oli. Oroba Si Oli adalah kain yang terbuat dari kulit kayu atau blacu berwarna hitam. Selain itu, ia juga memakai aksesoris berupa gelang kuningan bernama Aja Kola. Uniknya, ada gelang yang memiliki berat hingga 100 kilogram.
Sementara lelaki Suku Nias pakaian adatnya disebut Baru Oholu. Baju tradisional ini terbuat dari kulit kayu dan berbentuk rompi tanpa kancing dan penutup lainnya.
5. Pakaian Adat Suku Pakpak
Suku Pakpak memiliki kain yang dinamakan kain Oles. Bagi perempuan, pakaian adatnya disebut dengan Cimata. Sementara untuk lelaki disebut dengan Borgot. Dalam mengenakan pakaian adat mereka, Suku Pakpak juga menambahkan aksesori berupa kalung dari emas dan bertahtakan batu permata.
6. Pakaian Adat Suku Simalungun
Suku Simalungun ini juga menggunakan kain Ulos sebagai bagian dari pakaian adat mereka. Akan tetapi, di Suku Simalungun kain ini disebut sebagai Hiou.
Bedanya dengan Suku Batak Toba dalam mengenakan Ulos adalah Suku Simalungun menambahkan kain samping yang disebut Suri-Suri. Aksesoris yang dikenakan perempuan pada kening mereka disebut Bulang, sementara para lelaki mengenakan Gotong.
Baca Juga: 8 Rumah Adat Sumatera Utara: Bolon, Karo, Pakpak, Hingga Simalungun
Seperti yang telah menjadi ciri khas pakaian adat Melayu, di Sumatera Utara Suku Melayu mengenakan baju kurung dilengkapi dengan kain songket.
Khusus untuk para perempuan, baju kurung yang dikenakan terbuat dari kain brokat atau kain sutra. Selain itu, para wanita Melayu juga menambahkan kalung dengan motif rantai serati, sekar sukun, mentimun, tanggang, dan corak lainnya.
Sedangkan para lelaki Suku Melayu menambahkan penutup kepala sebagai aksesoris yang dinamakan Tengkulok. Aksesoris ini terbuat dari songket dan mempunyai makna kebesaran dan kegagahan pria. Ada juga Destar yang terbuat dari rotan dan dibalut dengan kain beludru.
Suku angkola adalah salah satu etnis yang mendiami daerah Tapanuli Selatan. Bagi perempuan dari suku ini pakaian adatnya memang hampir sama dengan adat dari Suku Mandailing. Tapi, pakaian adat dari Angkola ini jauh lebih mendominasi dengan warna yang cukup mencolok, yakni warna merah.
Pakaian adat dari Batak Angkola ini dilengkapi dengankain selendang. Kain tersebut nantinya akan diselempangkan pada tubuh. Baik lelaki atau pun perempuan juga mengenakan mahkota khas dari Batak Angkola.
Berita Terkait
-
Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo
-
Banjir Kepung Medan, Puluhan Warga Mengungsi
-
Menteri Ekonomi Malaysia Kagum Potensi Sumut, Puji Kepemimpinan Bobby Nasution
-
Kisah M A Hasibuan, Insan BRI di Sumatera Utara yang Dampingi UMKM Hingga Naik Kelas
-
Gubernur Bobby Dorong IMT-GT Lahirkan Proyek Konkret dan Investasi Berdampak bagi Masyarakat
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG
-
Tak Jera, IRT di Medan Kembali Jual Ganja Padahal Baru Keluar Penjara
-
Pelaku Tawuran di Medan Jarah Beras-Motor di Warung, 1 Ditangkap
-
500 Lebih Atlet Bertanding di AHY Cup 2026, Lokot Nasution Dorong Tenis Meja Sumut Naik Kelas
-
Kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang Bantu Pedagang Lepas dari Rentenir