SuaraSumut.id - Berharap untung bekerja di negeri orang, malah buntung yang didapat. Hal itulah yang dialami seorang remaja perempuan berinisial M (14) asal Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Ia diduga menjadi korban perbudakan modern di tempatnya bekerja di Kamboja. M diduga disekap, dipaksa bekerja dengan intimidasi tanpa adanya upah. Mirisnya lagi, korban terjebak dengan situasi ini tak bisa kembali ke kampung halamannya.
Pihak keluarga lalu mengadu ke Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Sumut untuk membantu memulangkan anak perempuan tersebut.
Ayah korban bernama Ishaq (51) menjelaskan putrinya berangkat ke luar negeri pada bulan Juni tahun 2023 silam. Keterbatasan ekonomi memaksa M mencari kerja untuk membantu keluarga, meski harus berangkat ke luar negeri.
"Dia (M) putus sekolah karena pergi bekerja ke luar negeri. Dia ingin membantu ekonomi keluarganya. Saya kerja serabutan, mamaknya sudah meninggal setahun yang lalu," katanya dengan wajah lesu saat diwawancarai SuaraSumut.id, Rabu (6/12/2023).
Ishaq mengatakan anaknya mendapatkan infromasi adanya pekerjaan dari luar negeri dari temannya. Meski berat melepas kepergian M, sang ayah akhirnya tak bisa menahan putrinya untuk berangkat ke luar negeri.
Anehnya, meski tidak ada dokumen lengkap seperti KTP karena masih di bawah umur dan juga paspor, M tetap bisa berangkat diduga melalui jalur ilegal.
"Anak saya belum ada KTP, karena di bawah umur," ungkap Ishaq.
Hingga akhirnya yang ditakutkan terjadi. Pada Senin 4 Desember 2023, M menghubunginya melalui video call WhatsApp (WA) dan meminta tolong agar dipulangkan ke Indonesia.
"Dua hari semalam melalui WhatsApp, nomornya baru lagi. Dia minta pulang, minta kirim uang, aku udah habis ini uang sudah ditipu," cetusnya.
M bercerita kepada ayahnya selama bekerja mendapatkan pengawasan ketat. Dirinya juga mengaku dilarang menghubungi keluarga.
"Dia di sana, gak boleh bersuara. Diam-diam, pengawas banyak, dalam mess. Pengakuannya di Kamboja," bebernya.
Menurut Ishaq, korban diduga bekerja sebagai operator judi online.
"Cerita dia kerja slot (judi online), kalah dimarahi," imbuhnya.
Ishaq bingung mau mengadu
Berita Terkait
-
PSMS Medan vs Persija Jakarta Jadi Laga Pembuka League Cup 2026, Catat Tanggalnya!
-
PSMS Tekuk PSIS 2-1, Gubernur Bobby Nasution Optimistis Ayam Kinantan Menuju ke Super League
-
Larang Vape karena Jadi Pintu Masuk Narkoba, Kapolri: Ganja yang Wanginya Khas Pun Bisa Disamarkan!
-
Diskon Sushi Tei dari BRI, Segera Klaim Sebelum Kehabisan
-
Apresiasi Nasabah, BRI Persembahkan Diskon 20 Persen di Lim Jia Kopitiam
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Pegawai Lapas Medan Nyambi Kurir Narkoba Ditangkap, 599 Pod Getar Disita
-
Revora 2026 Bakal Hadirkan 1.000 Mobil di Kawasan Lapangan Merdeka Medan, Ini Jadwal dan Keseruannya
-
150 Ribu Batang Ganja Dimusnahkan di Madina, Ladang Seluas 5 Hektar Ditemukan di Pegunungan
-
SIPEF dan KIS Bangun Pabrik BioCNG di Simalungun, Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih
-
Imigrasi Kualanamu Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Akses Layanan Paspor yang Setara