"Hati kecil ini menginginkan untuk nyanyi Solo. Sementara biasanya aku (Guido), bersama Band Punxgoaran. Entah mengapa, untuk lagu ini, aku tergerak untuk sendiri aja," ungkapnya.
Pada saat nyanyi solo ini, lelaki kelahiran Pematangsiantar itu mengajak dua temannya, yang merupakan komposer lagu. Guido menuturkan kisah pencipatan lagu Ro Jo hamu.
Dirinya mengaku marasakan ada dorongan dari luar tubuh yang menggerakkan hatinya untuk memberikan persembahan lagu kepada masyarakat.
Pada saat diajak teman untuk melihat situasi masyarakat adat di Sihaporas, ia ringan langkah berangkat untuk mendengarkan langsung cerita-cerita warga.
"Yaa, aku merasa sangat terkejut lah. Ternyata masih ada gitu, lingkungan atau komunitas masyarakat yang sangat mengerikan dan menakutkan terhadap intimidasi sehari-hari baik itu untuk anak-anak ataupun orangtua. Itu yang aku lihat," kata Guido.
Lelaki kelahiran Pematangsiantar ini juga masuk ke hutan atau melihat ritual ritual budaya yang ada di Sihaporas.
"Aku mencoba untuk kaki ayam (nyeker, tanpa alas kaki), tanpa memakai sepatu atau sandal. Kenapa? Karena aku berpikir, benar nggak ya, aku dijagain? Jawabannnya benar," cetusnya.
"Pada saat aku masuk ke dalam hutan, yang belukarnya luar biasa, tak satu pun ada duri melukai badan maupun kaki ku. Bahkan, satu biji pasir pun tidak ada yang kurasakan sakit terkena kakiku," sambung Guido.
Problematika TPL
Guido menceritakan kisah seorang temannya, bahwa pohon pembatas di lokasi tanah adat Sihaporas ditebang agar pihak TPL tidak menyerang masyarakat.
"Jadi, aku semakin penasaran, ini tempat apa gitu. Aku tidak pernah tahu problematika yang dihadapi Sihaporas, dengan TPL," jelasnya.
"Dan aku mendengar bahwa ada yang ditangkap (polisi) pada malam hari, (22 JUli 2024 pukul 03.00 WIB). Aku ga pernah mendengar hal begini. Dan aku bertanya kenapa bisa ada komunitas Batak yang menderita gitu? Karena setahu aku komunitas Batak selalu berpegangan ya, kalau ada yang susah paling satu atau dua tiga keluarga," katanya.
Ini lain halnya, satu komunitas Sihaporas itu merasa ketakukan dan tertindas. Itulah alasannya Guido berpikir apa yang bisa ia bantu.
"Pikirku. Karena aku nggak bisa melawan PT TPL, karena itu merupakan perusahaan raksasa. Jadi aku menciptakan sebuah karya yang bagaimana seluruh masyarakat bangso Batak bisa melihat keadaannya di situ," tukasnya.
Berita Terkait
-
Ibu-ibu di Sumut Lebam Dihajar Sekuriti Toba Pulp Lestari, PDIP Ancam Bentuk Pansus Agraria
-
Mahasiswi IPB Jadi Korban Pengeroyokan Brutal Sekuriti PT TPL, Jaket Almamater Hangus Dibakar
-
Kronologi Mencekam Sekuriti-Pekerja Toba Pulp Lestari Serbu Warga Adat Sihaporas, Ibu-ibu Dipukuli
-
Pekerja Toba Pulp Lestari Serbu Warga Adat: Anak Disabilitas Dipukul, Rumah dan Posko Dibakar!
-
Tanah Adat Jadi Bom Waktu di Maluku Utara, Sherly Tjoanda Tandai Masalahnya
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 5 Sepatu Saucony Paling Nyaman untuk Long Run, Kualitas Jempolan
Pilihan
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
Terkini
-
Indosat Hadirkan AIvolusi5G yang Kini Mencakup Lebih dari 340 Site Kota Medan
-
Telkomsel Lanjutkan Kebijakan Penyesuaian Biaya Berlangganan di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera
-
Ansor Medan Apresiasi Gebrakan Menkomdigi Meutya Hafid Tekan Transaksi Judol hingga 57 Persen
-
Laga Harga Diri di Tanah Rencong, PSMS Medan Siap Tempur Curi Poin dari Persiraja Malam Ini
-
PSMS Medan Bawa 23 Pemain ke Aceh untuk Curi Poin dari Persiraja