Dirinya menekankan pentingnya ekosistem dan biosfer sebagai penyedia layanan kehidupan manusia—air bersih, tanah subur, hingga hasil perikanan.
"Contohnya Costa Rica, yang dulu mengalami kerusakan ekosistem akibat eksploitasi besar-besaran, kemudian berbalik arah menjadi negara yang sukses mengelola ekosistem melalui ekowisata," ungkapnya.
Di tingkat lokal, Panut menyoroti potensi Marancar sebagai wilayah dengan ekosistem unik yang harus dikelola secara bijak dan partisipatif.
Di pertanian, terdapat istilah 'lagi track'. Misalnya kopi lagi track. Artinya itu produksi lagi kosong, sedikit atau sedang menurun.
Bisa jadi ini karena iklim atau ada perubahan dalam ekosistem, mungkin akibat hilangnya spesies penyerbuk.
"Maka dari itu, mempertahankan keberadaan satwa liar seperti orangutan juga penting dalam menjaga ekosistem," cetusnya.
Kritik terhadap Energi Fosil dan Seruan untuk Transisi
Merujuk pada komitmen global melalui Paris Agreement, Panut mengingatkan, target menahan suhu bumi di bawah 1,5 derajat celcius bisa gagal jika manusia tetap bergantung pada energi fosil. Ia menyoroti kontradiksi penggunaan mobil listrik yang masih mengandalkan listrik dari PLTU berbahan bakar batu bara.
"Transisi energi tidak hanya soal mengganti kendaraan, tapi juga soal sumber daya listriknya. Kalau masih dari batu bara, kita hanya memindahkan sumber emisinya," jelasnya.
Batang Toru: Titik Kritis Ekosistem
Panut juga menyoroti kawasan Batang Toru sebagai salah satu ekosistem bernilai tinggi di dunia yang menjadi habitat spesies langka seperti orangutan tapanuli, harimau Sumatera, beruang madu dan gibbon.
Namun, kawasan ini juga menghadapi tekanan dari industri pertambangan dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
"Pertanyaannya apakah mungkin spesies, masyarakat, dan industri bisa hidup berdampingan? Jawabannya mungkin. Tapi hanya jika ada perencanaan dan mitigasi yang serius,” katanya.
Manusia: Ancaman atau Solusi
Di akhir paparannya, Panut menegaskan bahwa manusia bisa menjadi ancaman terbesar, tetapi juga bisa menjadi solusi terbaik bagi bumi.
Berita Terkait
-
Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim
-
Cuaca Tak Menentu Jadi Momok Petani Rumput Laut Nunukan
-
Bobby Nasution Jadi Gubernur Sumut Pertama yang Berkantor di Kepulauan Nias
-
Mural Lingkungan Warnai Tanggul Pantai Tambaklorok Semarang
-
Mengapa Muka Air Danau Toba Terus Menurun? BRIN Ungkap Biang Kerok Sebenarnya
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
BRI Peduli Gandeng Petani Lokal di Jawa Barat untuk Tanam 24.000 Mangrove
-
Oknum Guru di Tanjungbalai Bantah Bawa Siswa SD ke Rumah untuk Dilecehkan Suami
-
Gasak Motor-Uang dari Rumah Warga, Maling di Deli Serdang Ditembak
-
Suami Guru di Tanjungbalai Jadi Tersangka Kasus Pencabulan, Terancam 9 Tahun Penjara
-
Heboh Siswa PIP Naik Ambulans, BNI Tegaskan Bukan Arahan Petugas