- Lingkungan banjir dan pengungsian meningkatkan risiko penyakit serius pada bayi dan anak, seperti diare, ISPA, dan penyakit kulit dari kontaminasi.
- Orang tua harus memastikan keamanan air minum, menjaga kebersihan, dan memprioritaskan ASI untuk bayi di lokasi pengungsian.
- Pemberian nutrisi yang tidak tepat, seperti formula tanpa air bersih memadai, berisiko; pendirian dapur PMBA di pengungsian sangat dianjurkan.
SuaraSumut.id - Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia kembali menimbulkan dampak serius, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak. Ribuan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan darurat dengan keterbatasan air bersih, sanitasi, dan fasilitas kesehatan. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang dapat berdampak fatal jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI menjelaskan bahwa lingkungan banjir dan pengungsian meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Salah satu penyakit paling umum adalah diare dan gangguan saluran cerna, yang umumnya disebabkan oleh konsumsi air dan makanan yang telah terkontaminasi bakteri.
"Diare sering terjadi karena air dan makanan terpapar kuman, seperti e-coli atau Salmonella. Pada bayi dan anak, diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi," katanya melansir Antara, Rabu, 28 Januari 2026.
Selain diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga sering ditemukan di lokasi pengungsian. Udara lembap, suhu dingin, serta kepadatan pengungsi mempercepat penularan virus influenza dan bakteri penyebab pneumonia.
Tak kalah berbahaya, penyakit kulit juga menjadi keluhan yang sering muncul akibat kontak langsung dengan air banjir yang kotor. Dokter yang juga aktif membagikan informasi seputar anak di media sosial tersebut menyebutkan, air banjir berpotensi mengandung bakteri berbahaya, termasuk Leptospira yang berasal dari urine tikus, sehingga meningkatkan risiko leptospirosis.
Genangan air setelah banjir juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi ini meningkatkan risiko demam berdarah dengue pada anak.
Menurut Leonirma, bayi dan anak lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sempurna. Cadangan cairan tubuh anak yang lebih sedikit juga membuat mereka lebih cepat mengalami dehidrasi.
Selain itu, perilaku eksploratif anak, seperti memasukkan tangan atau benda ke mulut, meningkatkan risiko paparan kuman. Orang tua diminta waspada terhadap gejala awal penyakit pada bayi dan anak selama berada di pengungsian. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan pola buang air besar, seperti tinja yang lebih cair atau frekuensinya meningkat.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah batuk, pilek, napas cepat atau berat, demam yang tidak turun dengan obat, serta kondisi anak yang tampak sangat lemas. Kelainan pada kulit, seperti kemerahan, bintil berair, atau luka yang sulit sembuh setelah terkena air banjir, juga perlu mendapat perhatian.
Peran gizi
Dalam kondisi pengungsian yang terbatas air bersih dan sanitasi, Leonirma menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Air minum harus dipastikan aman dengan cara dimasak hingga mendidih atau menggunakan air kemasan dengan segel utuh.
Kebersihan tangan menjadi langkah dasar yang harus diterapkan. Orang tua disarankan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan pembersih tangan sebelum menyuapi anak dan setelah mengganti popok.
Karena itu, sebisa mungkin anak tidak bermain di genangan air banjir. Jika terpapar air kotor, segera mandikan dengan sabun dan gunakan alas kaki.
Hal yang tidak kalah penting adalah pemberian air susu ibu atau ASI bagi bayi. ASI dinilai lebih aman dan higienis dibanding susu formula, terutama saat akses air bersih terbatas.
Sementara itu, dokter dan ahli gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum menyoroti risiko bayi dan anak terpapar pangan yang tidak sesuai usia selama berada di pengungsian. Bayi dan anak sering diberikan makanan atau minuman yang tidak ramah anak.
Tag
Berita Terkait
-
3 Keunggulan Air Purifier Terbaik Daikin untuk Wujudkan Hunian Sehat
-
Bahaya Kabut Asap Karhutla: Bisa Turunkan Fungsi Paru hingga Picu Kanker
-
Vasektomi Bisa Pakai BPJS Kesehatan? Ini Daftar Layanan KB yang Ditanggung BPJS
-
Rajin Sikat Gigi tapi Masih Bisa Berlubang? Ini yang Mungkin Terlewat
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu Memilih Salah Satunya?
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Tabrak Lari Maut di Toba, 2 Mahasiswi Tewas Usai Senggolan dengan Mobil
-
Awas! Perampok di Deli Serdang Pancing Korban Lewat Aplikasi Kencan Online
-
Modus Pura-pura Bantu Anak Wanita yang Sakit, Tukang Parkir di Medan Malah Curi Tas
-
BRI Salurkan KPP Rp427,5 Miliar kepada 1.619 Debitur di Jakarta
-
3 Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Madina