- Lingkungan banjir dan pengungsian meningkatkan risiko penyakit serius pada bayi dan anak, seperti diare, ISPA, dan penyakit kulit dari kontaminasi.
- Orang tua harus memastikan keamanan air minum, menjaga kebersihan, dan memprioritaskan ASI untuk bayi di lokasi pengungsian.
- Pemberian nutrisi yang tidak tepat, seperti formula tanpa air bersih memadai, berisiko; pendirian dapur PMBA di pengungsian sangat dianjurkan.
Banyak anak yang masih dalam fase menyusu justru diberi susu formula atau produk kemasan. Padahal kondisi air bersih tidak selalu memadai. Ini meningkatkan risiko diare.
Distribusi bantuan pangan yang tidak terkoordinasi dapat berdampak pada kesehatan bayi dan anak. Donasi susu formula dan produk kemasan sering kali diterima tanpa mempertimbangkan keamanan pangan dan sanitasi.
Dokter Tan mendorong pendirian dapur pemberian makan bayi dan anak atau PMBA di lokasi pengungsian. Dapur ini berperan menyediakan makanan sesuai kebutuhan gizi bayi dan anak, serta memastikan proses pengolahan yang aman.
Asupan gizi berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit. Dapur PMBA perlu segera didirikan agar pemberian makan bayi dan anak lebih terarah.
Ia juga menekankan bahwa pengadaan bahan pangan seharusnya menjadi bagian dari kesiapsiagaan tanggap darurat sebelum bencana terjadi. Perencanaan logistik yang baik dinilai dapat mencegah kesalahan pemberian makanan saat banjir.
Menurut dokter Tan, kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah tergiur menerima donasi susu formula dan produk kemasan tanpa mempertimbangkan kondisi air bersih.
“Tanpa air bersih yang cukup, penggunaan susu formula justru berisiko bagi kesehatan bayi,” katanya.
Baik dokter Tan maupun dokter Leonirma sepakat bahwa perlindungan kesehatan bayi dan anak saat banjir memerlukan peran orang tua, tenaga kesehatan, serta pengelola pengungsian. Edukasi tentang kebersihan, asupan gizi, dan tanda bahaya penyakit dinilai penting untuk menekan risiko kesehatan.
Orang tua diminta segera membawa bayi atau anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya, seperti diare dengan gejala dehidrasi, sesak napas, demam tinggi, kejang, muntah terus-menerus, atau luka yang menunjukkan tanda infeksi.
Dengan penerapan pola hidup bersih, pemenuhan gizi yang tepat, serta dukungan layanan kesehatan, risiko gangguan kesehatan pada bayi dan anak selama banjir diharapkan dapat dikurangi.
Tag
Berita Terkait
-
Cara Mengaktifkan BPJS PBI yang Tidak Aktif, Ini Langkah Reaktivasi dan Syaratnya
-
Kenapa BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif? Ini Penyebab Utamanya Menurut Aturan Terbaru!
-
Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia
-
Taruna Ikrar: AI Boleh Jadi Asisten Kesehatan, Tapi Bukan Pengganti Dokter
-
Self-Care Makin Didorong di Asia Pasifik, Literasi Kesehatan dan Keamanan Obat Jadi Kunci
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Wanita Diduga ODGJ Melahirkan di Pinggir Jalan Pematangsiantar, Bayi Meninggal Dunia
-
Jadwal SIM Keliling Medan Terbaru, Cek 5 Lokasi dan Syarat Perpanjangan
-
PSMS Medan Siapkan 31 Pemain Hadapi Persija Besok
-
Nyamuk Ternyata Punya Warna Favorit, Ini 5 Warna yang Cenderung Dihindarinya
-
Pegawai Lapas Medan Nyambi Kurir Narkoba Ditangkap, 599 Pod Getar Disita