Suhardiman
Kamis, 26 Februari 2026 | 10:19 WIB
Anak-anak menikmati momen ngabuburit sambil bercanda ringan. [Gemini AI]
Baca 10 detik
  • Candaan lawas Ramadan populer karena memberikan tawa ringan yang mencairkan suasana selama berpuasa.
  • Beberapa lelucon populer muncul dari kondisi lapar seperti menyamakan kecoa dengan kurma atau menghitung hari.
  • Humor sederhana ini berfungsi sebagai pengikat nostalgia serta menciptakan kebersamaan di momen Ramadan.

SuaraSumut.id - Ramadan selalu punya cerita. Selain momen ibadah, sahur, ngabuburit, hingga bukber, ada satu hal yang nyaris tak pernah absen: jokes receh. Meski terkesan sederhana, bahkan cenderung “basi”, candaan lawas bertema Ramadan ini justru punya daya tahan luar biasa.

Dari generasi ke generasi, lelucon ini tetap dipakai baik di tongkrongan, grup WhatsApp keluarga, sampai media sosial. Kenapa? Karena kadang yang kita butuhkan saat puasa bukan humor cerdas tingkat tinggi, tapi tawa ringan yang bikin suasana cair.

Berikut jokes receh lawas Ramadan yang masih sering dipakai hingga sekarang dan entah kenapa, tetap bikin senyum tipis.

1. “Gak terasa ya, lebaran tinggal 29 hari lagi”

Ini adalah candaan klasik di hari pertama puasa. Kalimat ini biasanya muncul saat seseorang mulai mengeluh lapar atau menghitung waktu berbuka. Humornya sederhana: puasa baru dimulai, tapi sudah terasa lama. Justru di situlah letak kelucuannya, realistis, tapi dibungkus dengan nada santai.

2. “Siang-siang begini hati-hati deh, lihat kecoa kok mirip kurma ya”

Saat perut kosong dan energi menurun, imajinasi kadang jadi liar. Benda apa pun bisa terlihat seperti makanan. Jokes ini menggambarkan kondisi “halu” khas orang puasa. Kurma memang identik dengan Ramadan, jadi ketika benda lain terlihat seperti kurma, itu jadi bahan candaan yang relatable.

3. “Puasa-puasa begini kirain lihat Sirup Marjan, ternyata Sunlight”

Botolnya mirip, warnanya kadang menggoda. Tapi satu untuk berbuka, satu lagi untuk cuci piring. Lelucon ini sering muncul di dapur atau supermarket menjelang Ramadan, saat rak sirup penuh warna-warni. Efeknya? Tawa ringan plus pengingat agar jangan salah ambil.

4. “Berbuka sama yang setia, karena yang manis belum tentu setia”

Ini versi receh dari nasihat kehidupan. Awalnya terdengar seperti petuah bijak, tapi ujungnya tetap humoris.

Biasanya dipakai saat ada yang membahas takjil manis atau sirup favorit. Tiba-tiba saja, obrolan takjil berubah jadi filosofi cinta ala Ramadan.

5. “Mau buka puasa cepat? Azan sendiri”

Kalimat ini sering muncul saat menit-menit terakhir menjelang magrib terasa sangat lama.Tentu saja ini hanya candaan. Justru karena mustahil dilakukan, humor ini jadi lucu. Intinya: sabar adalah kunci, walau perut sudah konser.

Di tengah kesibukan dan dinamika hidup yang terus berubah, humor sederhana seperti ini justru jadi pengikat nostalgia.

Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang kebersamaan dan keceriaan. Karena pada akhirnya, meski jokes-nya lawas dan receh, tawa kecil yang muncul tetap terasa hangat.

Load More