- Pemulihan Aceh Tamiang pascabencana signifikan; Abdullah Rasyid menyampaikan kemajuan pada Minggu, 29 Maret 2026.
- Hingga Maret 2026, 1.339 KK telah menempati hunian sementara (huntara) yang telah selesai dibangun.
- Infrastruktur listrik di lokasi terdampak telah pulih 99 persen, meski pembangunan huntara hadapi kendala teknis.
SuaraSumut.id - Pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Tamiang menunjukkan kemajuan. Bencana hidrometeorologi katastrofi yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tersebut sebelumnya mengakibatkan korban jiwa serta perubahan besar pada permukiman masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Abdullah Rasyid yang juga merupakan mahasiswa doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 29 Maret 2026.
"Progres pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang menunjukkan perkembangan signifikan, meski masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi," katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebutuhan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang mencapai 4.189 unit. Hingga awal Maret 2026, ribuan unit telah rampung dibangun dengan fasilitas dasar lengkap, dan 1.339 kepala keluarga telah menempatinya.
Percepatan pembangunan dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian dan Satgas Percepatan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (PRR), dengan target mempercepat relokasi warga dari tenda pengungsian ke hunian yang lebih layak pasca-Idul Fitri.
Sementara itu, data BPBD mencatat sekitar 1.396 jiwa masih berada di tenda pengungsian. Jumlah ini terus menurun seiring pemulihan, termasuk melalui penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada lebih dari 1.900 kepala keluarga sebagai solusi sementara.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto saat Idul Fitri di kawasan huntara turut memastikan kondisi lapangan. Infrastruktur listrik dilaporkan pulih hingga 99 persen, dan sebagian besar pengungsi telah meninggalkan tenda darurat.
Di sisi lain, proses pembangunan huntara menghadapi tantangan teknis, mulai dari kebutuhan material besar, koordinasi lintas sektor, hingga keterlibatan tenaga kerja lokal yang mencapai sekitar 70 persen.
Strategi terbaik adalah mitigasi asimetri informasi yang holistik dan preventif, disertai pelaporan real-time, verifikasi independen, dan penguatan kapasitas aparatur agar kebijakan akurat dan akuntabel.
Berita Terkait
-
Gempa Sumba Barat Daya Berdampak ke 3 Kabupaten, Ratusan Rumah dan Fasilitas Publik Rusak
-
Sugiono Jadi Menko PMK, Bidik Renovasi 300 Ribu Sekolah dan 10 Ribu Puskesmas hingga 2029
-
Pratikno Ungkap Tugas Menko PMK ke Sugiono: Pantau Bencana hingga Pastikan Tak Ada Warga Tertinggal
-
Saatnya Algoritma Media Sosial Turut Bertanggung Jawab Mitigasi Bencana
-
Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?
Terpopuler
- 4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan
- 3 Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak Lewat HP, Tak Perlu ke Kantor
- Link Download Tema dan Logo HUT TNI 2026 Resmi dari Mabes TNI
- 3 Rekomendasi Sepatu Lokal Sol Empuk Aman untuk Hujan-hujanan, Anti Licin
- Bagaimana Cara Mengetahui Feng Shui Kita? Kenali Kua Number dan Cara Menghitungnya
Pilihan
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
Terkini
-
308,87 Hektare Lahan di Sumut Terdampak Karhutla
-
Palmex Medan 2026 Bidik Transaksi 100 Juta Dolar AS
-
Polda Sumut Periksa Wanita yang Bilang Eks Istri Polisi Dijual ke Wakapolda, Kasus Naik Penyidikan
-
Bus Terguling di Jalinsum Labusel, 4 Orang Luka Berat
-
Kabut Asap Masih Selimuti Sejumlah Wilayah Sumut, Jarak Pandang Menurun