- Riset Google Quantum AI pada 31 Maret 2026 memproyeksikan komputer kuantum canggih mampu membobol keamanan kriptografi Bitcoin dalam sembilan menit.
- Ancaman tersebut belum terjadi saat ini karena ketersediaan komputer kuantum berskala besar yang stabil masih dalam tahap pengembangan.
- Pengembang Bitcoin mulai merancang upgrade protokol menuju kriptografi tahan kuantum guna memitigasi risiko keamanan di masa depan secara bertahap.
SuaraSumut.id - Google memprakirakan Bitcoin bisa dibobol kurang dari 10 menit jika komputer kuantum di masa depan semakin canggih. Ini jauh lebih cepat dari perkiraan semula, yakni tahunan. Pengamat menyebutkan komunitas pengembang Bitcoin sudah mempersiapkan rencana upgrade agar blockchain Bitcoin menjadi quantum proof.
Berdasarkan riset Google Quantum AI yang dirilis pada Selasa, 31 Maret 2026, waktu yang dibutuhkan untuk membobol kriptografi seperti Bitcoin secara teoretis bukan lagi hitungan hari atau tahun, melainkan hanya beberapa menit, bahkan diperkirakan sekitar 9 menit jika dijalankan pada komputer kuantum yang cukup canggih dengan penerapan Shor’s algorithm terhadap Elliptic Curve Cryptography.
Angka ini menjadi krusial, karena mendekati waktu rata-rata konfirmasi block Bitcoin sekitar 10 menit, sehingga secara hipotetis membuka peluang serangan dalam rentang transaksi yang sama. Namun, skenario tersebut masih bergantung pada ketersediaan komputer kuantum berskala besar yang stabil yang hingga kini belum tersedia, sehingga ancaman belum bersifat langsung, meski arah risikonya semakin jelas.
Google melalui divisi Google Quantum AI merilis hasil penelitian bertanggal 30 Maret 2026 yang mengungkap potensi ancaman komputer kuantum terhadap sistem keamanan cryptocurrency seperti Bitcoin.
Laporan yang dipublikasikan pada 31 Maret 2026 itu menjelaskan bahwa algoritma komputasi kuantum, khususnya Shor’s algorithm, secara teoritis mampu memecahkan sistem kriptografi Elliptic Curve Cryptography (ECC) yang digunakan untuk melindungi transaksi dan kepemilikan aset digital.
Dalam dokumen tersebut, Google menyebutkan bahwa kebutuhan sumber daya untuk menjalankan serangan terhadap ECDSA-256 kini jauh lebih efisien dibandingkan estimasi sebelumnya, bahkan hingga sekitar 20 kali lebih rendah. Meski demikian, Google menegaskan bahwa komputer kuantum dengan kapasitas tersebut belum tersedia saat ini, sehingga ancaman masih berada pada tahap proyeksi.
Menanggapi hal tersebut, pengamat aset kripto Vinsensius Sitepu menilai temuan ini sebagai peringatan berbasis riset yang perlu direspons sejak dini oleh industri. Ia menyebut laporan tersebut tidak hanya menggarisbawahi potensi risiko, tetapi juga urgensi kesiapan ekosistem dalam menghadapi perubahan teknologi yang bersifat fundamental.
“Sederhananya laporan Google menunjukkan bahwa jika hari ini teknologi komputer kuantum sangat canggih (1.200–1.400 logical qubit atau setara 500.000 physical qubit), maka ia mampu membobol transaksi Bitcoin di wallet dengan cara mendapatkan private key-nya hanya dalam hitungan menit. Yang jelas ini bukan ancaman yang terjadi hari ini, tetapi arah perkembangannya jelas di masa depan. Estimasi untuk mencapai kemampuan tersebut menjadi lebih dekat dibandingkan sebelumnya karena sebelumnya Google memperkirakan perlu jutaan qubit,” katanya, Rabu, 1 April 2026.
Ia menambahkan bahwa laporan tersebut juga menekankan pentingnya transisi menuju sistem kriptografi tahan kuantum (post-quantum cryptography/PQC) sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
“Google secara eksplisit mendorong persiapan migrasi. Ini bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan jika ekosistem kripto ingin tetap aman di masa depan,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan utama terletak pada koordinasi dalam ekosistem blockchain yang terdesentralisasi, sehingga proses migrasi tidak dapat dilakukan secara instan.
“Kalau mengacu pada laporan itu, isu utamanya bukan hanya teknologi, tapi kesiapan ekosistem. Waktu adaptasi memang masih ada, tapi semakin sempit,” tutupnya.
Menanggapi perkembangan di kalangan developer Bitcoin, Vinsensius Sitepu menilai bahwa ekosistem tidak tinggal diam menghadapi potensi ancaman tersebut. Ia menjelaskan bahwa wacana mengenai quantum resistance kini telah menjadi fokus di level developer dan mulai masuk ke tahap proposal teknis, termasuk pengembangan skema tanda tangan berbasis PQC.
Beberapa pendekatan yang diuji, menurutnya, mencakup penggunaan hash-based signature seperti SPHINCS+ dan XMSS sebagai alternatif dari sistem elliptic curve yang saat ini digunakan.
“Ini menunjukkan bahwa komunitas developer Bitcoin tidak menunggu sampai ancaman itu nyata. Mereka sudah masuk tahap desain, termasuk membahas perubahan struktur address dan proposal upgrade protokol,” ujarnya.
Berita Terkait
-
Cardano Melonjak Hampir 6%, CFX10 Perpanjang Reli Pasar Kripto RI
-
Industri Kripto Makin Tumbuh, OJK Perkuat Regulasi Keuangan Digital
-
Keamanan Kripto di Tengah Ancaman Serangan Siber, AI Dinilai Berperan Penting
-
Tak Cuma soal Teknologi, Kesadaran Pengguna Juga Jadi Kunci Keamanan Aset Kripto
-
Jangan Tertipu! Kenali Modus Phishing dan CS Palsu Platform Kripto
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Cegah Penyalahgunaan Dokumen Negara, Imigrasi Sumut Musnahkan 3.579 Paspor Usang
-
Wakil Bupati Langkat Menangis Dengar Kabar OTT Bupati Syah Afandin: Jaga Kesehatan!
-
BEM UI Desak Pemerintah Segera Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Aceh
-
KPK Ungkap Dugaan Kasus yang Menjerat Bupati Langkat Syah Afandin
-
Ruang Kerja Bupati Langkat Disegel KPK