- Datsun Go+ keluaran 2014–2016 ditawarkan seharga Rp65–80 juta dengan keunggulan mesin 1.2 liter serta efisiensi bahan bakar yang kompetitif.
- Daihatsu Sigra tahun 2016–2018 tersedia dengan harga Rp80–95 juta, menawarkan kabin luas dan konsumsi bahan bakar sangat hemat.
- Toyota Calya 2016–2018 dan Daihatsu Xenia 2004–2006 menjadi pilihan keluarga berbiaya murah dengan keunggulan kemudahan perawatan suku cadang.
SuaraSumut.id - Mencari mobil bekas segmen 1000cc 3 baris memang gampang di iklan. Namun menemukan yang masih nyaman dipakai harian, irit BBM, dan tidak bikin biaya servis membengkak itu cerita berbeda.
Banyak pembeli mobil pertama akhirnya menyesal karena mesin terasa lemah di tanjakan, BBM ternyata boros, sparepart sulit dicari atau kabin terasa sempit saat dipakai 7 orang.
Padahal dengan harga mulai Rp 60 jutaan, ada beberapa pilihan yang jauh lebih aman untuk jangka panjang. Berikut daftar mobil bekas 3 baris murah yang masih rasional dibeli sekarang.
1. Datsun Go+ (2014–2016)
Mobil bekas Datsun Go+ berada pada kisaran harga sekitar Rp65–80 juta di pasar kendaraan roda empat segmen entry-level.
Kendaraan ini dibekali mesin berkapasitas 1.2 liter yang mampu menghasilkan tenaga maksimum sebesar 68 PS serta torsi puncak 104 Nm.
Dari sisi biaya operasional rutin, beban pajak tahunan relatif terjangkau, yakni berkisar antara Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta, tergantung wilayah administrasi kendaraan dan tahun produksi.
Dalam aspek efisiensi bahan bakar, Datsun Go+ menunjukkan performa yang cukup kompetitif dengan tingkat konsumsi rata-rata sekitar 14–17 km per liter.
Namun demikian, beberapa keterbatasan masih ditemukan, terutama pada kualitas interior sederhana dan resale value rendah.
2. Daihatsu Sigra (2016–2018)
Unit bekas Daihatsu Sigra 2016–2018 berada pada kisaran harga sekitar Rp80–95 juta, sehingga masih tergolong kompetitif di segmen Low Cost Green Car (LCGC) tujuh penumpang.
Varian bermesin 1.0L menghasilkan tenaga sekitar 67 PS dengan torsi 89 Nm. Dalam penggunaan harian kombinasi dalam kota dan luar kota, konsumsi BBM rata-rata berkisar 15–18 km/liter.
Keunggulan Sigra dibandingkan kompetitor sekelas seperti Toyota Calya terletak pada harga yang leboih murah dan kabin cukup lega.
Namun kekurangannya performa mesin 1.0L terasa pas-pasan di tanjakan, tapi tetap hemat dan praktis.
3. Toyota Calya (2016–2018)
Berita Terkait
-
Spesifikasi, Harga, dan Pilihan Warna Suzuki S-Presso Girl Edition: Mobil Kompak untuk Wanita Karier
-
Belajar dari Kasus Recall Honda: Bagaimana Karat Subframe Menghancurkan Geometri Kaki-kaki Mobil?
-
5 Pilihan Mobil Hybrid Favorit di Indonesia di Kala Harga Pertamax Meroket, Kenali Jenis Penyakitnya
-
Mitsubishi Eclipse Bangkit dari Kubur, Kini Bawa 'Jantung' Elektrik
-
Nissan Leaf Bekas Harganya Tinggal Segini, Mending Mana dari Mobil Listrik Murah China?
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
TNI AL Gerebek Pesta Sabu di Tengah Laut, 6 Awak Kapal Ikan Ditangkap
-
Gara-gara Baju Ketat! 46 Warga Aceh Barat Terjaring Razia, Langgar Aturan Busana Syariat
-
Dua Pelaku Zina Dicambuk 100 Kali di Depan Publik, Aceh Barat Kirim Pesan Tegas Penegakan Syariat
-
6 Fakta Pabrik Vape Narkoba 'Labubu' di Medan yang Dikendalikan WNA Singapura
-
Layanan Perumda Tirtanadi Lumpuh, LAPK Sumut: Jangan Jadikan Listrik Sebagai Alasan