Suhardiman
Senin, 22 Juni 2026 | 09:36 WIB
Ilustrasi penangkapan. [Suara.com/Eko]
Baca 10 detik
  • Polisi menahan tersangka berinisial RWMS atas kasus pengeroyokan hingga menewaskan Jaka Janes Malau di Pematangsiantar, Mei 2026.
  • Pihak kepolisian juga mengamankan satu unit mobil berstiker ormas sebagai barang bukti dalam proses penyidikan kasus tersebut.
  • Insiden maut ini dipicu salah sasaran oleh pelaku setelah sebelumnya terlibat perselisihan harga tato dengan pihak lain.

Video tersebut memicu kecaman luas dari warganet karena memperlihatkan tindakan main hakim sendiri yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Terkait video tersebut, polisi menyebut peristiwa tragis tersebut bermula dari perselisihan terkait biaya pembuatan tato yang berujung aksi pengeroyokan.

Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Sandi Riz Akbar, menjelaskan peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 29 Mei 2026.

Awal mula kejadian melibatkan seorang pria bernama Ronaldo Siburian yang merasa keberatan dengan biaya tato yang dibuat oleh Marten Haloho.

"Awalnya ada enam pelaku. Ronaldo Siburian ini yang pertama kali punya cekcok dengan pembuat tato bernama Marten Haloho terkait masalah harga tato," kata Sandi kepada SuaraSumut.id, Jumat 19 Juni 2026.

Menurut penyelidikan polisi, Ronaldo keberatan karena biaya pembuatan tato yang semula disebut sebesar Rp600 ribu dianggap terlalu mahal. Ia menginginkan harga yang lebih rendah.

"Masalahnya karena selisih harga. Ronaldo komplain kenapa harus bayar Rp600 ribu. Sementara saksi Marten Haloho sudah menawarkan untuk mengembalikan uang tersebut dalam waktu satu minggu," ujarnya.

Setelah perselisihan itu, Marten Haloho dibawa oleh para pelaku ke dalam mobil. Mereka kemudian menuju kawasan Taman Bunga untuk mencari orang yang diduga terkait dengan persoalan tersebut.

Di lokasi itulah, kata Sandi, terjadi kesalahpahaman yang berujung maut. Ronaldo diduga salah mengira korban, Jaka Janes Malau, sebagai teman Marten Haloho.

"Tanpa melakukan klarifikasi kepada Marten, Ronaldo langsung mendatangi korban yang saat itu sedang duduk di lokasi. Dia bertanya, 'Kau ikut-ikutan juga?'," ungkap Sandi.

Korban kemudian menjawab, "Kalian kira aku takut sama kalian?" Jawaban tersebut memicu cekcok antara korban dan para pelaku hingga akhirnya berujung pada aksi pengeroyokan.

Polisi bahkan memastikan bahwa Marten Haloho sendiri tidak mengenal korban Jaka Janes Malau.

"Jadi korban ini sebenarnya bukan orang yang dicari. Marten juga tidak kenal dengan korban. Ini lebih kepada salah sasaran karena Ronaldo mengira korban adalah salah satu teman Marten," ungkap Sandi.

Kontributor : M. Aribowo

Load More