alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mantap! Kebijakan Anies Bikin Jakarta Keluar Top 10 Kota Termacet di Dunia

Bangun Santoso | Fakhri Fuadi Muflih Kamis, 21 Januari 2021 | 15:13 WIB

Mantap! Kebijakan Anies Bikin Jakarta Keluar Top 10 Kota Termacet di Dunia
Ilustrasi lalu lintas di Kota Jakarta. (Suara.com/Arga)

Posisi Jakarta kini jauh turun dari posisi 10 besar Kota Termacet di Dunia

SuaraSumut.id - Kota Jakarta kini tak lagi menduduki deretan 10 kota paling macet di dunia. TomTom Traffic Index merilis daftar terbaru kota termacet di Dunia. Tak ada lagi nama Jakarta dalam daftar top ten kota termacet di dunia.

Bahkan, dalam rilis itu, peringkat Kota Jakarta turun jauh sebagai kota termacet di dunia. Mau tahu di urutan berapa?

Ya, dalam rilis terkini TomTom Traffic Index itu, kini Jakarta menempati peringkat ke-31 dengan tingkat kemacetan mencapai 36 persen.

Ada berbagai faktor yang membuat Jakarta keluar dari 10 Besar Kota Termacet di Dunia.

Baca Juga: Jakarta Keluar dari Top 10 Kota Termacet di Dunia, Ini Salah Satu Faktornya

Salah satunya kebijakan perbaikan transportasi yang dibuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Di samping itu, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai saat ini juga turut jadi faktor pendukung Jakarta tak lagi berada di jajaran Top 10 Kota Termacet di Dunia.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo menjelaskan, selama masa pandemi, diberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat demi mencegah penularan Covid-19.

Mulai dari pembatasan kapasitas angkutan umum hingga jam kerja perkantoran.

"Di hulu pengaturan jam kerja, ada WFH, di sisi hilir ada pembatasan jam operasional angkutan, pembatasan kapasitas angkutan," ujar Syafrin kepada wartawan, Kamis (21/1/2021).

Baca Juga: Gara-gara Pandemi Corona, Jakarta Tak Masuk Kategori Kota Termacet di Dunia

Syafrin mengatakan, Jakarta cukup berhasil melakukan pembatasan kegiatan masyarakat ini.

Sebab, kebijakan yang dibuat berkesinambungan dan berbarengan diterapkannya.

"Kebijakan berjalan seiring sekalian sehingga efektif," katanya.

Tak hanya faktor pandemi yang membuat mobilitas masyarakat berkurang, Syafrin menyebut kebijakan integrasi transportasi massal juga membuat kemacetan berkurang.

Masyarakat Jakarta diklaimnya kini banyak beralih menggunakan kendaraan umum ketimbang pribadi.

"Selain itu juga fokus pada integrasi angkutan umum melalui program JakLingko dan Penataan Kawasan Stasiun serta mengedepankan prinsip kolaborasi dengan Masyarakat langsung dalam setiap kegiatan," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, DKI Jakarta dinyatakan telah keluar dari Top 10 Kota Termacet di Dunia versi TomTom Traffic Index.

Dari 416 kota, Jakarta kini menempati peringkat ke 31 dengan tingkat kemacetan mencapai 36 persen.

Berdasarkan laman TomTom, Jakarta sudah masuk 10 Besar Kota Termacet di Dunia sejak 2017.

Berawal dari peringkat keempat, lama kelamaan angkanya membaik jadi urutan tujuh di 2018, 10 saat 2019 dan terakhir tahun 2020 peringkat ke-31.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait