- Guru Besar UI Prof. Jatna Supriatna mendorong pembangunan kawasan pegunungan berbasis sains di Medan pada Selasa, 11 Agustus 2026.
- Kajian UI menyimpulkan banjir bandang Batang Toru akhir November 2025 dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.
- Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu mengharapkan rekomendasi riset tersebut untuk menjaga ekosistem dan mengurangi risiko bencana.
SuaraSumut.id - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) UI, Prof. Jatna Supriatna, menegaskan bahwa pembangunan di kawasan pegunungan harus betul-betul mempertimbangkan karakteristik geologi dan topografi setempat.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama UI dan I-SER UI, di Medan, Selasa, 11 Agustus 2026.
"Pembangunan itu harus betul-betul sesuai dengan karakteristik geologi dan topografi. Ini yang harus dipahami betul-betul," katanya.
Ia menyoroti tingginya kerentanan kawasan pegunungan Sumatera terhadap deforestasi dan bencana hidrometeorologi. Menurutnya, bencana tidak semata-mata ditentukan oleh curah hujan. Kondisi geologi, topografi, tutupan vegetasi dan perubahan lingkungan turut menentukan tingkat risiko bencana.
Baca Juga:2 Orang Tewas Tertabrak Kereta Api di Sergai
Ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung beberapa hari, kawasan dengan kondisi tanah dan batuan yang rentan dapat mengalami erosi hingga longsor.
Untuk memetakan perubahan kondisi vegetasi dan wilayah yang mengalami kerusakan pascabencana, penelitian memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).
Pemetaan itu diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan langkah restorasi kawasan Batang Toru sekaligus menyusun strategi pembangunan yang lebih sesuai karakteristik dan tingkat kerentanan wilayah.
Kajian UI yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh, dan hidrometeorologi menyimpulkan bahwa banjir bandang Batang Toru dan Garoga pada akhir November 2025 merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, dengan curah hujan harian mencapai 229,7 mm dan akumulasi mingguan lebih dari 600 mm, setara kejadian berulang 300 tahun.
Hujan ekstrem itu diperkuat oleh kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi, dinamika daerah aliran Sungai (DAS) yang sangat aktif, migrasi saluran sungai, dan karakteristik sedimen bawah permukaan. Kajian juga tidak menemukan bukti yang menghubungkan kejadian banjir dengan aktivitas operasi pertambangan.
Baca Juga:BBKSDA Sumut: Konservasi Batang Toru Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Sistem Sungai Batang Toru dan Garoga terbukti telah mengalami evolusi alami panjang dengan migrasi saluran aktif berulang setiap 5–10 tahun, terutama di DAS Batang Toru (Desa Perkebunan Sigala-gala) dan DAS Garoga (Desa Garoga, Desa Huta Godang, dan Desa Mombang Boru).
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mengatakan Tapanuli Selatan sangat membutuhkan rekomendasi berbasis riset untuk menjaga ekosistem sekaligus mengurangi risiko bencana serupa.
"Kami berharap betul dan mengucapkan terima kasih. Ini sangat kami butuhkan. Mudah-mudahan dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan untuk bagaimana menjaga alam dan ekosistem di Tapanuli Selatan," kata Gus Irawan.
Kontributor : M. Aribowo