Mungkin sekarang saya baru bisa bilang ya, ini lo buktinya uang ini buat mereka. Anak saya sudah pada kerja, pendidikannya sudah dapat yang terbaik, jadi saya bisa bilang, saya kehilangan materi tidak apa-apa, tapi saya bisa mengatakan, "ini lo anak saya sudah jadi orang." Sedikit banyak saya sudah bisa berbangga. Ini anak dengan hidup cuma sama saya, jadi sebisa mungkin ya saya harus bisa mewujudkan mimpinya Wawan.
Seperti anak yang besar itu di (Universitas) Padjajaran ambil Sastra Rusia, terus bapaknya itu pernah bilang, "kamu jangan hanya ngambil pelajaran saja, tapi kamu harus bisa sampai negaranya," akhirnya dibuktikan ambil S2, kemudian selesai.
Kalau orang bilang, "sudah 10 tahun ya, tidak terasa." Iya kamu tidak menjalani, saya yang menjalani ya kerasa. Dibilang berat ya berat, dibilang enteng ya enteng gitu to. Ya sudahlah, disyukuri saja, memang ini garis hidup saya seperti ini, tapi mungkin waktu itu Wawan ninggal saya sudah mantep gitu ya.
Jadi Wawan meninggal itu 26 Oktober 2010, 35 hari kemudian itu bapak saya meninggal. Lalu setelah itu, kehidupan saya jalani seperti biasa. Cuma waktu itu memang Tuhan lagi membentuk saya, maksudnya masih menguji saya. Lalu setelah enam bulan, anak saya yang besar itu masuk ICU itu ada sekitar dua minggu. Banyak hal memang dalam kehidupan ini harus saya jalani. Namun di atas itu semua banyak hal yang harus saya syukuri. Mungkin saya kehilangan orang yang mengasihi saya dan saya kasihi, tapi kalau di agama saya, "jangan hanya melihat kedukaan yang kita hadapi, tapi lihat apa yang sebenarnya di balik peristiwa ini."
Baca Juga: Masyarakat Siagakan Barak, Aktivitas Gunung Merapi: Waspada Level II
Tidak mudah karena saya seorang diri, dengan dua orang anak perempuan, di mana godaan zaman itu juga demikian hebatnya. Kemudian saya juga harus adil, di mana saat itu saya harus nengok anak saya di Bandung, tinggalkan anak saya yang kecil. Membagi waktu. Mungkin orang melihatnya enak.
Banyak yang bilang Wawan itu mati konyol, tapi bagi saya enggak, jarang ada orang yang mau berkorban seperti dia, tapi saya tidak pernah mendengarkan kata orang karena kalau kata orang itu kita simpan, yang sakit itu kita sendiri.
Setelah peristiwa itu, apakah Ibu mengalami trauma? Bagaimana upaya untuk berdamai dengan itu?
Trauma ya pasti ada, tapi enggak yang gimana gitu ya. Takut pasti, tapi ya harus menguatkan diri sendiri. Kalau saya nangis-nangis kan kasihan anak saya. Jadi gimana saya harus menahan. Ya sudah kita terima saja. Kalau kita menghadapi situasi, Tuhan enggak mau kasih kita cobaan atau apa, Tuhan cuma mau tahu "kamu bisa enggak melewati ini." Banyak masalah datang dan pergi, tapi ya bersyukur kita bisa melewati ini. Saya sudah melewati ini bukan sehari dua hari, sudah bertahun-tahun. Sekarang saja bisa, besok juga pasti bisa.
Kalau berkunjung ke Merapi, bagaimana perasaan Ibu?
Baca Juga: Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Barak di Cangkringan Disiagakan
Engggak ada masalah, tapi waktu lihat fotonya Wawan di Museum Mbah Maridjan, saya bisa ndeprok [terduduk di tanah], enggak bisa berdiri. Saya dibopong temen saya, dibilang, "ndadak rene barang ke yo ngopo [pakai ke sini segala itu ya ngapain]," tapi yang namanya mengumpulkan keberanian kan ya.
Berita Terkait
-
Sejarah Erupsi Gunung Lewotobi dari Masa ke Masa, Terbaru Telan 10 Nyawa
-
Aktivitas Gunung Merapi Intensif, Ratusan Guguran Lava dan Awan Panas Ancam Zona Bahaya
-
Sirkuit Buriram Jadi Lokasi Laga ARRC 2024 Seri Perdana, Tim Indonesia Ini Yakin Berikan Prestasi Terbaik
-
Pembalap WorldSSP300 Aldi Satya Mahendra Meriahkan IIMS 2024
-
Final ARRC 2023 Thailand, Yamaha Indonesia Turunkan Formasi Tiga Pembalap
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Menghitung Ranking FIFA Timnas Indonesia Jika Menang, Imbang, atau Kalah Melawan China
Pilihan
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
Terkini
-
KAI Tambah Kursi Penumpang Rute Medan-Rantau Prapat untuk Arus Balik Lebaran 2025
-
Viral Sepeda Motor Masuk Tol Medan-Kualanamu, Pengendara Mengaku Ikuti Maps
-
Ngeri! Tukang Ojek di Sergai Digorok Penumpang Pakai Cutter
-
Ancam Bunuh Ibu Kandung, Pria di Medan Diamuk Warga
-
Remaja Asal Aceh Hanyut Mandi Sungai Saat Mudik ke Langkat, Ditemukan Tewas