Scroll untuk membaca artikel
Suhardiman
Sabtu, 20 Maret 2021 | 15:12 WIB
Ibu korban menangis di rumah duka. [Suara.com/M Aribowo]

"Anak saya sudah gak mau dia takut dimasukan besi, tapi ditenangkan tim medis, dibilang kakak (korban), berjuang ibarat naik pesawat, kalau nahas kita jatuh, kalau berhasil kita sampai bandara (sembuh)," ujarnya.

Nahas bagi Rani, tak lama dimasukkan alat tersebut, wanita muda ini menghembuskan nafas terakhirnya.

"Aku gak nyangka, karena anak saya bilang kakak kuat," tangisnya.

Gak Boleh Dendam

Baca Juga: Tak Terima Dianggap Pansos, GMW Irene: Saya Ini Atlet Bukan Artis!

Sebelum meninggal dunia, kata Supriati, anaknya berpesan kepada keluarganya untuk tidak boleh dendam terhadap pelaku yang membakar dirinya.

"Jangan dendam sama siapa-siapa, kakak gak dendam Mak e, kita maafkan aja. Aku gak mau lagi sama dia (suami yang membakarnya)" kata Supriati mengingat pesan anaknya.

"Saya juga tidak memiliki firasat, cuma sebelum meninggal ada suara burung di rumah sakit, jam 12 malam, tapi saya gak yakin itu pertanda," sambungnya.

Ia mengatakan, dalam kesehariannya korban dikenal sebagai sosok anak yang baik.

"Dia membantu saya seorang janda, saya juga ada sakitnya, Rani ini yang membantu saya untuk pengobatan, tapi kini dia luan pergi," tangis Supriati.

Baca Juga: Bawa Pisau ke Polres Jaksel, Seorang Pria Dipiting Petugas

Jenazah korban sendiri telah dimakamkan di TPU Jalan Rahayu, Kecamatan Percut Sei Tuan.

Load More