SuaraSumut.id - Polisi menangkap seorang pria yang memaksa anaknya untuk mengisap rokok di Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara. Pelaku berinisial SM (28).
"Sehubungan dengan viralnya status facebook pelapor, maka penyelidik PPA melakukan penyelidikan dan mengamankan pelaku di sekitar rumahnya," ujar Kapolres Labuhanbatu AKBP Deni Kurniawan, Kamis (26/8/2021).
Ia mengatakan, pelapor berinisial NH (24) menikah dengan pelaku pada tahun 2018. Satu bulan setelah menikah pelapor hamil dan melahirkan bulan September 2019.
"Sejak bulan Juni 2021 pelapor dan korban tidak lagi tinggal satu rumah dengan Pelaku dimana pelapor dan korban tinggal di rumah orangtua pelapor sedangkan pelaku tinggal di rumah Orangtuanya," katanya.
Deni menjelaskan, pada bulan Juli 2021 pelaku mengambil korban (anaknya) yang awalnya ijin kepada pelapor namun setelah itu pelaku melarang pelapor untuk bertemu dengan korban.
Hubungan antara keduanya semakin tidak harmonis, hingga akhirnya pada tanggal 03 Agustus 2021 pelapor dan pelaku resmi bercerai.
"Hak asuh anak ada pada pelapor (ibu korban) sesuai dengan putusan Nomor 949 /Pdt.G/2021/PA.RAP Tanggal 24 Agustus 2021," katanya.
Namun demikian, ibu korban tetap tidak diperkenankan oleh pelaku untuk bertemu. Mirisnya, pelaku melakukan tindakan kekerasan, dengan memaksa sang anak merokok.
Deni menjelaskan, motif pelaku melakukan kekerasan psikis dan memaksa merokok sang anak, agar pelapor mau rujuk dengannya.
Baca Juga: 6 Rukun Haji yang Perlu Dipahami Umat Muslim
"Motifnya yakni sebagai bentuk ancaman kepada pelapor agar pelapor merasa kasihan kepada korban dan mau kembali bersatu kepada tersangka," katanya.
Usai pelaku ditangkap, balita ini akhirnya dapat kembali ke pangkuan ibunya. Momen haru ini pun terekam di Polres Labuhanbatu.
Sementara, Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu AKP Parikhesit menambahkan, akibat perbuatannya pelaku dikenakan dengan pasal berlapis.
"Pasal 89 ayat (2) sub Pasal 77B dari UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak atau Pasal 45 dari UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Lingkup Rumah Tangga," imbuhnya.
Pelaku juga dipersangkakan dengan Pasal 76J Jo Pasal 89 (2) ancaman hukuman minimal 2 tahun, maksimal 10 tahun.
"Pasal 76B Jo Pasal 77 B ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Dan, Pasal 45 ancaman hukuman Maksimal 3 tahun," kata Parikhesit kepada wartawan SuaraSumut.id.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
2 Pria Sulap Kandang Ayam Jadi Gudang Narkoba di Deli Serdang, 18 Kg Ganja Disita
-
BRI Borong 4 Penghargaan di The Finance 2026, Bukti Kinerja Solid & Komitmen Dukung UMKM
-
Polisi Tangkap Host Live TikTok Bermuatan Pornografi di Deli Serdang, Raup Rp80 Juta
-
GAPKI Soroti Tantangan Produksi-Tata Kelola Sawit di IPOS Forum ke-11
-
Mobil Mercedes-Benz Tabrak Warung Mi Balap di Deli Serdang, Satu Orang Tewas