SuaraSumut.id - Salah satu cara menekan dan mengurangi kemiskinan di Sumatera Utara (Sumut) adalah dengan cara mengurangi konsumsi rokok. Hal itu dinyatakan pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin.
"Jika mampu mengurangi atau menghapus konsumsi rokok, saya yakin semakin banyak masyarakat yang keluar dari garis kemiskinan," ujar Gunawan, dikutip dari Antara, Jumat (28/7/2023).
Menurutnya, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan garis kemiskinan Sumut meningkat pada Maret 2023. Salah satunya karena rokok.
BPS Sumut menyatakan garis kemiskinan di Sumut pada Maret 2023 naik 1,85 persen dibandingkan September 2022, utamanya disebabkan karena harus memenuhi kebutuhan beras dan rokok.
Pada Maret 2023, beras dan rokok yang digolongkan ke kategori makanan memiliki andil terbesar dalam meningkatkan garis kemiskinan Sumut menjadi Rp602.999 per kapita per bulan dari Rp592.025 per kapita per bulan pada September 2022.
Beras berandil terbanyak yaitu 20,76 persen terhadap garis kemiskinan di perkotaan pada Maret 2023, sementara di perdesaan 29,79 persen.
Setelah beras, rokok kretek filter berdampak terbanyak kedua pada garis kemiskinan di perkotaan (12,63 persen) dan perdesaan (9,94 persen).
Dilihat dari segi wilayah, garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan Sumut meningkat pada Maret 2023. Di perkotaan, garis kemiskinan Rp626.782 per kapita per bulan (naik 1,88 persen dibandingkan enam bulan sebelumnya) dan di perdesaan Rp573.500 per kapita per bulan (naik 1,72 persen dibandingkan September 2022).
"Kalau kebutuhan akan rokok dihilangkan, uang itu bisa digunakan untuk membeli kebutuhan yang lebih penting misalnya beras. Masyarakat sebenarnya menyadari hal ini tetapi tidak mampu berbuat apa-apa karena cenderung menganggap rokok itu sebuah kebutuhan," kata Gunawan.
Baca Juga: Iklan Rokok Mau Dilarang Negara, Apa Dampaknya ke Industri Tembakau?
Terkait hubungan rokok dengan kemiskinan, pada Januari 2023 Kementerian Kesehatan mempublikasikan pernyataan bahwa jumlah perokok di Indonesia terus bertambah dan mencapai jumlah 69,1 juta orang pada tahun 2021.
Pengeluaran 69,1 juta orang itu untuk rokok diyakini berkisar Rp64 triliun per tahun.
Kemenkes juga mengutip hasil studi Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) yang memperlihatkan peningkatan pengeluaran rokok sebesar satu persen akan meningkatkan kemungkinan rumah tangga menjadi miskin sebesar enam persen.
Berita Terkait
-
Heboh Nathalie Holscher Curhat Sambil Merokok, Padahal Ini Bahaya Asap Rokok bagi Anak-Anak
-
Ada Selisih CHT, Rokok Murah Buat Perusahaan Lakukan Downtrading
-
Marak Ditemukan Rokok Ilegal di Kalbar, Negara Alami Kerugian Hingga Rp1,7 Miliar
-
KPK Cari Bukti Perusahaan Rokok Lain yang Diduga Setorkan Uang ke Andhi Pramono
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
SIPEF dan KIS Bangun Pabrik BioCNG di Simalungun, Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih
-
Imigrasi Kualanamu Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Akses Layanan Paspor yang Setara
-
Remaja di Medan Pukul Teman hingga Tewas Gegara Kesal Dimaki
-
Pengiriman 144 Balpres Ilegal dari Bandung ke Medan Digagalkan
-
Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC