SuaraSumut.id - Video yang menampilkan seorang ibu berada dalam kubangan lumpur diduga direndam anaknya viral di media sosial (medsos).
Dilihat dari akun instagram Seputaran Binjai, Selasa 29 April 2025, terlihat seorang wanita terkapar dalam lubang lumpur dengan kondisi lemas tak berdaya. Wanita itu tertutup lumpur di sekujur tubuhnya, mulai dari kaki, badan hingga wajah.
Dalam narasinya pengunggah video menyampaikan kalau wanita itu diduga berendam dalam lumpur bekas galian sumur selama satu hari satu malam. Diduga, wanita itu merupakan seorang ibu yang direndam anaknya di dalam kubangan lumpur.
"Tega anak di Nias rendam ibunya di lumpur semalam," tulis dalam video.
Sontak saja begitu beredar di media sosial, video yang diduga seorang ibu direndam oleh anaknya di dalam lumpur ini seketika mengundang warganet untuk berkomentar.
“Kok dibiarin, langsung tolongin woy,” kata warganet di kolom komentar.
“Malin kundang part 2,” ungkap warganet lainnya.
Namun ada juga warganet yang mengatakan kalau hal tersebut diduga metode pengobatan.
“Mungkin itu pengobatan harus direndam di dalam lumpur,” kata warganet lainnya.
Terkait dengan beredarnya video yang diduga terjadi di Nias, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.
Kasi Humas Polres Nias Aiptu Motivasi Gea ketika dikonfirmasi SuaraSumut.id mengenai video ini menyampaikan pihaknya masih mengecek kebenaran video yang beredar.
"Masih kita cek dulu kebenaran video tersebut, sejauh ini belum ada laporan," katanya kepada wartawan lewat selular.
Aiptu Motivasi Gea menambahkan pihaknya saat ini sedang menyelidiki lokasi kejadian wanita direndam lumpur seperti yang beredar di media sosia.
"Kalau benar kalau lokasi di wilayah hukum Polres Nias, maka kami akan melakukan penindakan," pungkasnya.
Hukum pidana di Indonesia mengatur tindak pidana penganiayaan, termasuk terhadap ibu, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan undang-undang terkait lainnya. Berikut penjelasan terkait hukum pidana menyiksa ibu:
Ketentuan Hukum
Penganiayaan Biasa (Pasal 351 KUHP):
Penganiayaan yang menyebabkan rasa sakit atau luka diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda maksimal Rp 4.500.
Jika mengakibatkan luka berat, ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun.
Jika menyebabkan kematian, ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun.
Penganiayaan terhadap Ibu (Pasal 356 KUHP):
Jika penganiayaan dilakukan terhadap ibu (atau ayah, anak, atau istri), pidana dapat ditambah sepertiga dari ancaman pidana biasa karena hubungan khusus antara pelaku dan korban. Misalnya, penganiayaan biasa yang biasanya diancam 2 tahun 8 bulan bisa menjadi sekitar 3 tahun 6 bulan.
Penganiayaan Ringan (Pasal 352 KUHP):
Jika penganiayaan tidak menyebabkan luka atau gangguan aktivitas sehari-hari, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda Rp4.500.000 (setelah konversi berdasarkan Perma 2/2012). Namun, ini tidak termasuk penganiayaan terhadap ibu karena hubungan khusus meningkatkan ancaman pidana.
Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT):
Jika penganiayaan terhadap ibu terjadi dalam lingkup rumah tangga (misalnya oleh anak atau menantu), berlaku UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Pasal 44 UU KDRT mengatur kekerasan fisik dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda Rp15.000.000. Jika menyebabkan luka berat, ancaman pidana paling lama 10 tahun, dan jika menyebabkan kematian, paling lama 15 tahun.
Unsur Pidana Penganiayaan:
- Perbuatan melawan hukum: Menyakiti atau melukai tubuh korban.
- Kesengajaan: Pelaku dengan sengaja melakukan tindakan.
- Akibat: Rasa sakit, luka, atau kerugian kesehatan.
Dalam konteks menyiksa ibu, penganiayaan biasanya melibatkan tindakan fisik (memukul, mencubit) atau psikis (penghinaan, ancaman) yang menyebabkan penderitaan.
Pertimbangan Khusus
- Hubungan Emosional: Penganiayaan terhadap ibu dianggap lebih berat karena melanggar nilai moral dan budaya yang menghormati orang tua. Hal ini diperkuat oleh ajaran agama, seperti Islam, yang menganggap durhaka kepada ibu sebagai dosa besar.
- Konteks Anak sebagai Pelaku: Jika pelaku adalah anak kandung, hakim dapat mempertimbangkan faktor psikologis atau sosial (misalnya tekanan ekonomi atau gangguan mental) dalam menentukan hukuman, meskipun tidak menghapus tanggung jawab pidana.
- Anak di Bawah Umur: Jika pelaku anak di bawah 18 tahun, berlaku UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang mengutamakan pendekatan restorative justice, seperti mediasi atau pembinaan, kecuali tindakan sangat berat (misalnya menyebabkan kematian).
Kontributor : M. Aribowo
Berita Terkait
-
Bukan Copet, Transjakarta Ungkap Fakta Penumpang Ngamuk di Koridor 5 yang Viral
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat
-
Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran
-
Viral Momen IShowSpeed Jadi 'Presiden FIFA Dadakan', Tapi Cuma 5 Menit
-
Siapa Sudaryono Wamentan? Ini Biodata dan Perjalanan Karier Mas Dar
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 25 Juni 2026 di Medan
-
Kecelakaan Mobil vs Truk di Taput Bikin Pengiriman 112 Kg Ganja dari Madina ke Medan Terungkap
-
DPM Salurkan Bantuan Tas Sekolah bagi 132 Siswa Berprestasi
-
Viral Emak-emak Gerebek Pondok Narkoba di Labuhanbatu
-
Polisi Gelar Pra Rekonstruksi Kematian Steven Arya di Langkat