SuaraSumut.id - Event 3rd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2025 dibuka oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat, pada Senin 4 Agustus 2025.
Event berlangsung di Gedung Serbaguna Pemprov Sumut dari 4 hingga 10 Agustus 2025. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan memberi perhatian khusus pada pembinaan pesilat muda.
Hal ini untuk pembinaan dini pesilat yang akan membawa nama baik Indonesia di kancah internasional dimasa mendatang. Setiap pesilat usia dini bermain satu kali. Mereka akan membawa pulang medali, yaitu emas untuk pemenang, perak untuk yang kalah.
Dari 3.265 pesilat yang bertanding, sebanyak 500 pesilat usia dini tampil dalam dua kategori, yaitu usia dini-1 (5–8 tahun) dan usia dini-2 (8–11 tahun).
Mereka berasal dari Sumut beserta provinsi lainnya di Pulau Sumatera hingga Papua Pegunungan. Ribuan penonton di Gedung Serbaguna Pemprovsu pun memberi dukungan kepada para pesilat usia dini tersebut.
"Pesilat usia dini bermain dua babak dalam satu menit. Lebih singkat dari kategori lainnya," kata Ketua Panitia 3rd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2025 Dr dr H Johny Marpaung MKedOG SpOG Subsp-KFM melalui Mad Tuah SH (kordinator pertandingan).
Kordinator pertandingan mengapresiasi penampilan para pesilat kategori usia dini-1 dan kategori usia dini-2. Ia mengatakan panitia memberi perhatian keamanan diri para peserta, pesilat usia muda termasuk pemakaian body protector.
"Tingkat cedera untuk pesilat usia dini lebih kecil. Tidak boleh saling membanting dan melakukan sapuan. Mereka hanya diperbolehkan pukul dan tendang. Tidak boleh menarik. Jadi lebih aman," ujarnya.
Dirinya menilai pesilat usia dini memiliki daya juang dan daya saing yang luar biasa.
"Selisih poin pertandingan, tidak jauh-jauh. Perguruan pencak silat atau provinsi dengan jumlah medali emas terbanyak, jadi juara umum," rincinya.
Keseruan 3rd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2025 dirasakan Azzima asal SMI Bayu Palano Padang Sumatera Barat. Ia optimis jadwal pertandingan pada Rabu 6 Agustus dapat dimenangkan.
Sementara itu, Muhammad Rifki, pesilat muda berusia 14 tahun tetap semangat meski dalam pertandingan tak menang. Dirinya bahagia mendapat pengalaman bertanding di even olahraga internasional tersebut.
Rifki merupakan satu dari 168 pesilat pesantren. Pesilat termuda di pesantren tersebut berusia 10. Semua ingin jadi pesilat karena keinginan para santri.
"Sudah ada yang jadi pesilat mewakili Sumut saat Pra-PON lalu," kata Razudin Saragih MM, pelatih Rifki.
Berita Terkait
-
Cerita Pemain Jepang Yusuke Sasa Main di Tangerang, Depok hingga Jadi Mualaf di Bogor
-
ABK Dituntut Hukuman Mati terkait Sabu 2 Ton, DPR Ingatkan Hakim: Itu Opsi Terakhir
-
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
-
Jakarta Electric PLN Mobile Tumbangkan Medan Falcons di Putaran Kedua Proliga 2026
-
Pesona Kebun Anggur di Bawah Kaki Gunung Sinabung, Bisa PP dari Medan!
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
Terkini
-
2.001 Pos Kamling Ditargetkan Rampung pada Juni 2026
-
Layanan Angkutan Barang Kereta Api Tetap Beroperasi Selama Lebaran
-
Perjuangan Tim Indosat Berpacu dengan Waktu Pulihkan Jaringan Saat Banjir Landa Aceh Tamiang
-
Wujudkan Rumah Imipan Anda dengan BRI KPR
-
Kenapa Mobil Listrik Bekas Kurang Diminati? Ini Alasannya