Suhardiman
Rabu, 07 Januari 2026 | 11:56 WIB
Ilustrasi bencana alam. (Gemini AI/Nano Banana)
Baca 10 detik
  • Sebanyak 59.365 meter jaringan irigasi di Aceh Timur rusak akhir November 2025 akibat banjir, longsor, dan sedimentasi lumpur.
  • Kerusakan jaringan irigasi ini mengancam ketahanan pangan serta sektor pertanian masyarakat Aceh Timur yang terdampak.
  • BPBD Aceh Timur kini sedang mendata kerusakan untuk menjadi dasar pengusulan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi segera.

SuaraSumut.id - Sepanjang 59.365 meter jaringan irigasi di Kabupaten Aceh Timur, rusak akibat bencana yang terjadi pada akhir November 2025. Jaringan irigasi yang rusak tersebar di sejumlah kecamatan.

"Kerusakan tersebut terdiri dari irigasi yang jebol akibat banjir, tanah longsor serta sedimentasi lumpur yang menutup saluran air," kata Kepala BPBD Aceh Timur Afifullah, melansir Antara, Rabu, 7 Januari 2026.

Ia mengatakan bahwa rusaknya jaringan irigasi tersebut mengancam keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.

"Irigasi yang rusak ini tersebar di sejumlah kecamatan terdampak banjir. Banyak saluran yang jebol dan tidak lagi berfungsi normal untuk mengaliri sawah warga," ujar Afifullah.

Banjir dengan ketinggian air mencapai satu hingga 10 meter di sejumlah wilayah menyebabkan tekanan besar pada tanggul dan dinding irigasi. Arus air yang deras menggerus struktur irigasi yang sudah berusia tua, sehingga banyak titik tidak mampu menahan beban air.

Afifullah mengatakan perbaikan irigasi menjadi prioritas utama pascabencana, mengingat keberadaannya vital bagi perekonomian masyarakat Aceh Timur yang sebagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian.

Namun upaya perbaikan irigasi membutuhkan dukungan anggaran besar serta sinergi lintas instansi, baik dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat.

"Kami mendorong agar perbaikan irigasi ini bisa segera ditangani secara bertahap. Jika tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa berkepanjangan, terutama terhadap musim tanam dan penghasilan petani," kata Afifullah.

Saat ini, kata Afifullah, pihaknya bersama instansi terkait masih mendata lanjutan tingkat kerusakan di setiap titik irigasi. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam pengusulan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

"Data ini masih bersifat sementara dan bisa berubah. Yang jelas, kerusakan irigasi akibat banjir kali ini cukup signifikan dan membutuhkan penanganan serius," kata Afifullah.

Selain irigasi, Afifullah mengatakan kerusakan juga dialami lahan pertanian akibat banjir. Data sementara tercatat seluas 10.902 hektare lahan pertanian terdampak banjir, baik terendam air dalam waktu lama maupun kehilangan suplai air akibat saluran irigasi yang rusak.

"Sebagian besar petani saat ini tidak bisa menanam karena irigasi putus. Ada yang sawahnya terendam lumpur, ada juga yang kekurangan air karena saluran jebol," kata Afifullah.

Load More