Suhardiman
Selasa, 17 Februari 2026 | 11:13 WIB
Workshop bertajuk “Membangun Narasi Berimbang Media Kelapa Sawit di Wilayah Terdampak Berbasis Mitigasi”. [Ist]
Baca 10 detik
  • Workshop di Medan pada 16 Februari 2026 mendorong media membangun narasi kelapa sawit yang berimbang, mencakup mitigasi dan keberlanjutan.
  • Tujuan utamanya adalah mendorong media menyampaikan informasi faktual, meningkatkan pemahaman mitigasi, serta memperkuat peran media sebagai mitra strategis.
  • Apkasindo berharap media meluruskan persepsi negatif, menyoroti kontribusi ekonomi sawit, dan menyajikan bukti empiris berbasis data ilmiah.

SuaraSumut.id - Narasi publik tentang kelapa sawit perlu ditempatkan dalam konteks yang utuh. Tidak hanya menyoroti persoalan, namun juga mengangkat upaya mitigasi, praktik keberlanjutan, serta berbagai perbaikan tata kelola yang terus dilakukan industri.

Hal ini dikatakan oleh Pimpinan Umum Sawitsetara.co, Dr. Eko Jaya Siallagan dalam workshop yang berlangsung di Hotel Grand Central Medan, pada Senin, 16 Februari 2026.

Workshop bertajuk “Membangun Narasi Berimbang Media Kelapa Sawit di Wilayah Terdampak Berbasis Mitigasi” digelar Sawitsetara.co dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatera Utara.

"Di tengah berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi sektor sawit, media memiliki posisi penting dalam membentuk persepsi publik, yang tentunya ke arah positif," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa workshop ini sebagai upaya strategis untuk memperkuat pemahaman dan peran media dalam menyampaikan informasi mengenai industri kelapa sawit secara objektif dan bertanggung jawab.

Selain itu, workshop menjadi ruang dialog dan pembelajaran bersama antara media, pemangku kepentingan, dan pelaku industri.

"Kita ingin memperluas sudut pandang dalam melihat dinamika, tantangan, serta transformasi yang terus berlangsung di sektor kelapa sawit,” ujar Eko.

Workshop bertajuk “Membangun Narasi Berimbang Media Kelapa Sawit di Wilayah Terdampak Berbasis Mitigasi”. [Ist]

Melalui pendekatan berbasis mitigasi dan keberlanjutan, kata Eko, informasi yang disampaikan kepada masyarakat diharapkan tidak sekadar informatif, melainkan juga mampu membangun kesadaran, kepercayaan, dan pemahaman yang lebih seimbang.

Eko juga memaparkan sejumlah tujuan utama dari kegiatan tersebut. Pertama, mendorong terbentuknya narasi media yang lebih berimbang, faktual, dan konstruktif terkait industri kelapa sawit, khususnya di wilayah Sumatera.

Kedua, meningkatkan pemahaman media terhadap berbagai upaya mitigasi, tata kelola berkelanjutan, serta praktik-praktik baik yang telah diterapkan.

Ketiga, memperkuat peran media sebagai mitra strategis dalam membangun opini publik yang edukatif, solutif, dan bertanggung jawab. Keempat, menjembatani komunikasi antara pelaku industri, pemangku kepentingan, dan masyarakat guna memperkecil kesenjangan informasi serta membangun kepercayaan publik.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga mitra strategis dalam membangun opini yang sehat dan berbasis data. Dengan komunikasi yang terbuka dan berimbang, kita dapat memperkecil kesenjangan informasi yang selama ini memicu kesalahpahaman," ucapnya.

Kegiatan itu diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antara media dan industri demi pembangunan sektor kelapa sawit yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Dia berharap melalui kegiatan itu dapat tercipta persepsi publik yang lebih positif dan objektif terhadap industri kelapa sawit sebagai sektor strategis yang terus bertransformasi dan berkomitmen terhadap prinsip keberlanjutan.

Ketua DPW Apkasindo Sumatera Utara, Ir Gus Dalhari Harahap, berharap pelaksanaan workshop yang digelar dapat menumbuhkan persepsi positif untuk sektor persawitan Indonesia.

Menurutnya, kegiatan yang menghadirkan jurnalis, pemangku kepentingan, serta pelaku industri tersebut menjadi momentum penting untuk meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan dan bencana alam yang kerap dikaitkan dengan perkebunan kelapa sawit.

"Melalui forum ini, media termasuk Sawitsetara.co dapat ikut menyuarakan informasi yang faktual dan berimbang, terutama dalam menyikapi isu banjir yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara," ujarnya.

Apkasindo, kata Gus Dalhari, berharap kegiatan itu ada tindak lanjut yang nyata.

"Media dapat ikut menyuarakan bahwa sawit bukan penyebab banjir. Bencana yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor alam, seperti curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, dan itu memang fakta" katanya.

Dia berharap, media harus menyiarkan berita berdasarkan fakta yang sebenarnya dan perlu konfirmasi.

"Sawit adalah tanaman yang bukan saja mensejahterakan petani, tetapi memberi sumbangsih besar dalam pergerakan ekonomi nasional. Kampanye negatif sawit sudah seharusnya tidak ada lagi,"katanya.

Pemateri lainnya, Dr Muhammad Hilman Fikri dari Universitas Muslim Nusantara Al-Washliayah menyebutkan, isu lingkungan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di pasar premium global.

"Oleh karena itu, strategi komunikasi sawit harus beralih dari sekadar klaim menjadi penyajian bukti empiris (evidence-based) yang transparan," jelas Hilman dalam paparannya tentang Sawit Dalam Kacamata Ilmu Pengetahuan, Antara Realitas, Risiko dan Narasi.

Dia menegaskan, penguatan narasi berbasis data ilmiah merupakan kunci dalam melindungi ekuitas merek nasional.

Load More