- Workshop di Medan pada 16 Februari 2026 mendorong media membangun narasi kelapa sawit yang berimbang, mencakup mitigasi dan keberlanjutan.
- Tujuan utamanya adalah mendorong media menyampaikan informasi faktual, meningkatkan pemahaman mitigasi, serta memperkuat peran media sebagai mitra strategis.
- Apkasindo berharap media meluruskan persepsi negatif, menyoroti kontribusi ekonomi sawit, dan menyajikan bukti empiris berbasis data ilmiah.
Menurutnya, kegiatan yang menghadirkan jurnalis, pemangku kepentingan, serta pelaku industri tersebut menjadi momentum penting untuk meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan dan bencana alam yang kerap dikaitkan dengan perkebunan kelapa sawit.
"Melalui forum ini, media termasuk Sawitsetara.co dapat ikut menyuarakan informasi yang faktual dan berimbang, terutama dalam menyikapi isu banjir yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara," ujarnya.
Apkasindo, kata Gus Dalhari, berharap kegiatan itu ada tindak lanjut yang nyata.
"Media dapat ikut menyuarakan bahwa sawit bukan penyebab banjir. Bencana yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor alam, seperti curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, dan itu memang fakta" katanya.
Dia berharap, media harus menyiarkan berita berdasarkan fakta yang sebenarnya dan perlu konfirmasi.
"Sawit adalah tanaman yang bukan saja mensejahterakan petani, tetapi memberi sumbangsih besar dalam pergerakan ekonomi nasional. Kampanye negatif sawit sudah seharusnya tidak ada lagi,"katanya.
Pemateri lainnya, Dr Muhammad Hilman Fikri dari Universitas Muslim Nusantara Al-Washliayah menyebutkan, isu lingkungan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di pasar premium global.
"Oleh karena itu, strategi komunikasi sawit harus beralih dari sekadar klaim menjadi penyajian bukti empiris (evidence-based) yang transparan," jelas Hilman dalam paparannya tentang Sawit Dalam Kacamata Ilmu Pengetahuan, Antara Realitas, Risiko dan Narasi.
Dia menegaskan, penguatan narasi berbasis data ilmiah merupakan kunci dalam melindungi ekuitas merek nasional.
Berita Terkait
-
Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?
-
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saatnya Berhenti Membeli Standar Kecantikan yang Tidak Perlu
-
Viral Hari Ini, Hilang Esok Hari: Mengapa Kita Sering Terjebak 'Lupa' pada Masalah?
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Di Balik Layar Algoritma: Bagaimana Media Sosial Mempelajari Kebiasaanmu
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Diduga Alami Gangguan Jiwa, Anak Perempuan Tega Habisi Ibu Kandung di Siantar
-
Penumpang Pesawat Bawa 101 Vape Narkoba Ditangkap di Kualanamu
-
Karhutla di Paluta Hanguskan 5 Hektare, Penyebab Masih Diselidiki
-
Siswa Asal Sumut-Aceh Raih Beasiswa Kuliah dari Telkomsel
-
15 Juta Warga Britania Raya Alami Gangguan Kesehatan Akibat Gelombang Panas